Panitia melakukan proses kurasi agar pelaku usaha yang sudah memiliki merek besar maupun usaha yang masih berkembang memperoleh kesempatan yang sama untuk memasarkan produk mereka kepada puluhan ribu penonton yang hadir.
"Saya lihat pengelolaan UMKM-nya lebih bagus sekarang. Lebih bersih, terus tempat-tempatnya disiapkan, lebih ramai juga. Karena saya minta sama Ketua Pelaksana, untuk UMKM itu serius ditangani dengan cara tadi, pilih yang brand-brand-nya yang sudah besar dan yang belum besar tapi punya potensi untuk besar," ujarnya.
Baca Juga:
CSR Astra Group Akan Bangun Seribu Unit Rusun, Maruarar-Nusron Bakal Bagi-bagi SHM Gratis - Hunian Murah
Maruarar menambahkan, harga tiket yang ditetapkan sebesar Rp50 ribu menjadi salah satu faktor yang membuat antusiasme masyarakat sangat tinggi.
Ia menilai sepak bola harus menjadi hiburan rakyat yang mudah dijangkau tanpa mengurangi kualitas pelayanan maupun kenyamanan penonton.
"Kan buat hiburan rakyat, dan supaya rakyat itu bisa mendapatkan hiburan yang berkualitas ya. Terjangkau, berkualitas, aman, makanannya juga terjangkau juga. Kan harusnya negara begitu kan, kalau negara hadir itu ya membuat hiburan yang berkualitas, bayar tiketnya murah, makanannya juga oke, tempatnya bersih, aman," tegasnya.
Baca Juga:
Menteri PKP Tekankan Transparansi Program BSPS di Sumedang, Serapan 42.508 Unit Jadi Perhatian
Ia juga berharap konsep penyelenggaraan Piala Presiden dapat menjadi contoh dalam pengelolaan industri sepak bola Indonesia.
Transparansi pengelolaan keuangan, menurutnya, menjadi salah satu aspek penting yang terus dijaga oleh panitia.
"Saya pikir ini harus jadi model buat pengelolaan sepak bola, supaya industri olahraga kita makin maju. Makanya kita diaudit kan selalu oleh PwC dengan sebaik-baiknya. Dan juga tidak menggunakan uang negara ya, tidak ada dari BUMN, tidak ada dari APBN. Jadi semuanya dari swasta," sambungnya.