Sabam mengaku kalau rasa keadilannya kerap terusik ketika melihat kekuasaan Orde Baru yang otoriter.
Ia membela petani di desa Sei Priok, Tebing Tinggi, yang tanahnya digusur demi kepentingan investor perkebunan.
Baca Juga:
Ikuti Langkah Jokowi, Maruarar Sirait Pamit dan Kembalikan KTA ke PDIP
Bersama aktivis ekstra parlemen seperti Arif Budiman, Sabam menentang pembangunan TMII di penghujung tahun 1971.
Menurutnya, biaya yang dibutuhkan untuk membangun TMII bisa digunakan untuk membangun puluhan ribu gedung sekolah dasar di negeri ini.
Menurut Sabam, kritik yang ia sampaikan adalah bentuk keperdulian kepada rakyat.
Baca Juga:
Rekam Jejak Bagus, Sabam Sirait Dinilai Layak Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Dan itulah makna sesungguhnya dari politik.
Baginya, politik itu suci: perjuangan mewujudkan kebenaran dan keadilan untuk rakyat.
Menariknya, Sabam terus bertahan sebagai politisi di era Orde baru.