Profil Penulis:
Arnod Sihite, SE
Mahasiswa Program Magister ilmu politik Universitas Nasional, Wakil Ketua Umum KSPSI Pimpinan Yorrys Raweyai
Sejumlah kebutuhan strategis nasional, mulai dari pangan, energi, bahan baku industri, hingga komponen teknologi, masih didatangkan dari luar negeri dengan nilai mencapai ratusan triliun rupiah setiap bulan.
Baca Juga:
BPOM Ungkap Kondisi Industri Jamu RI, Banyak Tak Memahami Regulasi
Data impor bulanan menunjukkan, komponen elektronik menjadi sektor dengan nilai impor terbesar, yakni mencapai 4,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp79 triliun per bulan. Selain itu, impor mesin dan peralatan mekanis tercatat sebesar 3,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp58 triliun.
Pada sektor energi, impor bahan bakar minyak (BBM) mencapai 3,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp56 triliun per bulan. Tingginya impor energi tersebut membuat kebutuhan domestik sangat bergantung pada kondisi pasar internasional dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Tidak hanya sektor industri dan energi, impor pangan juga masih cukup besar. Gandum dan jagung tercatat mencapai 400 juta dollar AS atau sekitar Rp7 triliun per bulan. Sementara impor gula dan kembang gula mencapai 200 juta dollar AS atau sekitar Rp3,5 triliun.
Baca Juga:
Tampung Minyak Impor dari Rusia Pemerintah Siapkan BLU, Ini Alasannya
Indonesia juga masih mengimpor kedelai sebesar 160 juta dollar AS, susu dan telur sekitar 120 juta dollar AS, serta buah dan sayur mencapai 130 juta dollar AS setiap bulan.
Di sektor industri, impor bahan baku masih mendominasi aktivitas produksi nasional. Besi dan baja tercatat sebesar 1,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp23 triliun per bulan.
Kemudian plastik dan karet rekayasa mencapai 1,5 miliar dollar AS, sementara bahan kimia dan farmasi mencapai 2,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp49 triliun.
Besarnya nilai impor tersebut membuat pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap biaya produksi industri nasional. Ketika nilai tukar rupiah turun, perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli bahan baku maupun barang modal dari luar negeri.
Kondisi itu turut memengaruhi harga barang di pasar domestik karena kenaikan biaya impor biasanya diikuti peningkatan harga produksi.
Dalam jangka panjang, tekanan terhadap industri dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional apabila ketergantungan impor tidak dikurangi.
Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah dinilai perlu memperkuat produksi dalam negeri, terutama pada sektor pangan, energi, dan industri manufaktur.
Peningkatan produktivitas pertanian menjadi langkah penting agar kebutuhan seperti gandum, jagung, gula, dan kedelai dapat lebih banyak dipenuhi dari produksi nasional.
Di sektor energi, pengembangan kilang minyak dan percepatan penggunaan energi alternatif juga diperlukan untuk menekan impor BBM yang selama ini menjadi salah satu beban terbesar devisa negara.
Sementara pada sektor industri, penguatan hilirisasi dan peningkatan kapasitas industri nasional dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku maupun komponen industri.
Pengembangan industri elektronik, baja, petrokimia, hingga mesin produksi domestik juga menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Selain itu, penggunaan produk dalam negeri serta peningkatan investasi pada sektor produksi dinilai dapat membantu memperkuat daya saing industri nasional di tengah tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Pelemahan rupiah saat ini menjadi pengingat bahwa ketahanan ekonomi nasional masih sangat dipengaruhi oleh impor.
Selama kebutuhan strategis masih bergantung pada pasar luar negeri, gejolak nilai tukar dan kondisi ekonomi global akan terus memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia.