WAHANANEWS.CO, Jakarta - Bumi belum selesai memanas dan suhu global diperkirakan terus menanjak selama beberapa dekade mendatang jika manusia belum mampu menghentikan emisi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer.
Karbon dioksida dan metana menjadi dua gas utama yang mendorong pemanasan global hingga memperparah gelombang panas dan meningkatkan suhu rata-rata bumi.
Baca Juga:
Cuaca Panas Mendidih, AC Makin Laku Keras di RI
Melansir Mashable.com, Sabtu (8/8/2026), berbagai rekor suhu ekstrem yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir memberikan gambaran mengenai perubahan iklim yang semakin nyata.
Phoenix, Amerika Serikat, pada 2023 mengalami suhu di atas 110 derajat Fahrenheit atau sekitar 43,3 derajat Celsius selama lebih dari 30 hari berturut-turut.
China pada periode yang sama bahkan mencatat temperatur mencapai 126 derajat Fahrenheit atau sekitar 52,2 derajat Celsius.
Baca Juga:
Eropa Barat Diterjang Gelombang Panas Ekstrem, PBB Sebut Iklim Makin Buruk
Death Valley juga mencatat suhu sekitar 120 derajat Fahrenheit atau 48,9 derajat Celsius pada pukul 01.00.
Sementara Roma pernah diterpa suhu mencapai 109 derajat Fahrenheit atau sekitar 42,8 derajat Celsius.
Gelombang panas merupakan bagian dari fenomena alam yang dapat terjadi di bumi, tetapi rekor suhu ekstrem yang terus berulang bukan kondisi yang dianggap normal.
Ilmuwan menilai tingkat panas bumi pada masa depan sangat bergantung pada seberapa banyak bahan bakar fosil yang terus dibakar manusia.
Jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer menjadi salah satu faktor utama yang menentukan seberapa jauh pemanasan global akan berlangsung.
Para ilmuwan menggunakan sejumlah skenario karena perilaku manusia, perkembangan teknologi, kebijakan pemerintah, dan penggunaan energi di masa depan tidak dapat diprediksi secara pasti.
Ilmuwan iklim Cornell University Flavio Lehner mengatakan proyeksi tersebut pada akhirnya sangat bergantung pada pilihan manusia.
“Semua ini bergantung pada apa yang dilakukan manusia dan manusia sulit diprediksi,” kata Lehner.
Menurut Lehner, keputusan politik serta pilihan mengenai penggunaan energi membuat masa depan emisi tidak dapat dihitung layaknya fenomena alam yang sepenuhnya mengikuti hukum fisika.
Meski demikian, terdapat kabar yang relatif lebih baik dibandingkan kekhawatiran ilmuwan sekitar satu dekade lalu.
Skenario paling buruk yang dapat membuat suhu bumi meningkat sekitar 9 hingga 10 derajat Fahrenheit atau sekitar 5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri kini dinilai memiliki kemungkinan lebih kecil.
Namun, skenario terbaik yang mampu membatasi pemanasan pada sekitar 2,7 derajat Fahrenheit atau 1,5 derajat Celsius hingga akhir abad juga semakin sulit diwujudkan.
Bumi saat ini telah memanas sekitar 2 derajat Fahrenheit atau kurang lebih 1,2 derajat Celsius dibandingkan tingkat suhu pada akhir abad ke-19.
Kenaikan yang terlihat kecil tersebut telah menghasilkan perubahan besar pada sistem iklim dan lingkungan di berbagai belahan dunia.
“Peristiwa yang belum pernah kita lihat sebelumnya sudah terjadi pada pemanasan sekitar 1,2 derajat Celsius,” kata Lehner.
Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai pertanda bahwa sistem iklim yang dihadapi manusia sekarang sudah berbeda dibandingkan masa lalu.
“Kita sudah berada dalam iklim yang berbeda,” ujar Lehner.
Sekitar satu dekade lalu, prospek pemanasan global bahkan terlihat jauh lebih buruk karena konsumsi bahan bakar fosil dan emisi karbon terus meningkat setiap tahun.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa dunia bergerak menuju skenario pemanasan sangat tinggi yang dikenal sebagai SSP5-8.5.
Skenario SSP5-8.5 menggambarkan kondisi ketika emisi gas rumah kaca terus melonjak dan pembakaran batu bara pada 2100 meningkat hingga sekitar 6,5 kali lipat.
Perkembangan dunia saat ini menunjukkan penggunaan batu bara tidak lagi bertumbuh setiap tahun dengan pola seperti yang dibayangkan dalam skenario tersebut.
Energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin juga berkembang pesat serta telah mengambil bagian semakin besar dalam sistem energi.
Di Amerika Serikat, energi terbarukan disebut telah menyumbang sekitar 13 persen dari pasokan energi.
Meski begitu, penggunaan energi terbarukan masih berada di bawah bahan bakar fosil baik di Amerika Serikat maupun secara global.
Ilmuwan iklim Zeke Hausfather melihat perubahan sistem energi dunia sebagai faktor penting yang membuat proyeksi pemanasan ekstrem semakin tidak mungkin terjadi.
“Dunia telah membuat kemajuan nyata dalam mengatasi perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir,” tulis Hausfather dalam analisisnya.
Ia merujuk pada melonjaknya investasi teknologi energi bersih dan mulai mendatarnya emisi karbon dioksida global.
“Dunia sekarang kemungkinan menuju pemanasan kurang dari 3 derajat Celsius pada 2100 di bawah kebijakan saat ini,” kata Hausfather.
Prospek tersebut jauh berbeda dibandingkan sekitar 15 tahun sebelumnya ketika pemanasan sekitar 4 derajat Celsius masih terlihat lebih masuk akal.
Namun, Hausfather mengingatkan bahwa kebijakan yang berlaku sekarang tidak otomatis menentukan kondisi yang akan terjadi hingga akhir abad.
“Kebijakan saat ini bukan batas atas maupun batas bawah dari emisi masa depan,” ujar Hausfather.
Artinya, dunia masih dapat bergerak menuju kondisi yang lebih baik apabila transisi energi dipercepat, tetapi kemunduran kebijakan juga tetap dapat meningkatkan risiko.
Pada sisi lain terdapat skenario SSP1-1.9 yang menggambarkan jalur pembatasan kenaikan suhu bumi sekitar 1,5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri pada akhir abad.
Target tersebut menjadi salah satu ambisi utama ketika negara-negara dunia menyepakati Perjanjian Paris.
Namun, umat manusia diperkirakan akan melewati ambang pemanasan 1,5 derajat Celsius dan kondisi itu berpotensi terjadi sejak dekade 2030-an.
Dengan kondisi tersebut, masa depan iklim bumi kemungkinan berada di antara skenario terbaik dan skenario paling buruk.
Lehner melihat posisi tersebut sebagai situasi yang tetap serius meski lebih baik dibandingkan proyeksi paling ekstrem.
“Ini bukan kabar baik, tetapi juga bukan skenario terburuk yang bisa terjadi,” kata Lehner.
Sementara Hausfather memperkirakan jalur yang lebih realistis berada di sekitar skenario menengah seperti SSP2-4.5, meskipun perkembangan kebijakan dan teknologi terus mengubah proyeksi.
Skenario tersebut secara umum menggambarkan dunia dengan pemanasan signifikan tetapi tidak mengikuti lonjakan penggunaan bahan bakar fosil ekstrem seperti SSP5-8.5.
Dalam kajian ilmiah yang diterbitkan pada 2025, Hausfather menyebut terdapat konsensus yang semakin kuat bahwa estimasi sentral pemanasan abad ke-21 kini kemungkinan berada di bawah 3 derajat Celsius.
Perubahan tersebut tidak berarti ancaman pemanasan global telah selesai.
“Masih sulit untuk sepenuhnya mengesampingkan pemanasan 4 derajat Celsius atau lebih,” tulis Hausfather dalam kajiannya.
Ketidakpastian tetap ada karena respons siklus karbon dan sensitivitas iklim dapat berada pada sisi yang lebih tinggi dari berbagai perkiraan ilmiah.
Kenaikan sekitar 2,6 derajat Celsius sekalipun tetap menjadi tingkat pemanasan yang dapat membawa konsekuensi serius bagi manusia dan ekosistem.
Hausfather menilai kebijakan sekarang juga bukan alasan bagi dunia untuk berhenti meningkatkan upaya pengurangan emisi.
Menurutnya, perkembangan biaya energi bersih yang semakin murah dan penerapannya yang cepat masih membuka kemungkinan memperbaiki jalur pemanasan hingga akhir abad.
Dampak pemanasan sebenarnya sudah dapat dilihat ketika kenaikan suhu global masih berada di kisaran sekarang.
Kebakaran hutan yang semakin intens menjadi salah satu konsekuensi karena atmosfer lebih hangat dapat mengeringkan vegetasi dan pepohonan.
Kondisi tanaman yang lebih kering membuat api lebih mudah terbentuk dan menyebar ketika kebakaran terjadi.
Gelombang panas juga menjadi semakin berpeluang mencapai temperatur ekstrem ketika suhu rata-rata bumi meningkat.
Lehner mengatakan pengaruh perubahan iklim kini dapat ditemukan pada hampir setiap gelombang panas yang terjadi.
“Perubahan iklim semakin meningkatkan suhu pada hampir setiap gelombang panas yang kita amati saat ini,” ujar Lehner dalam keterangan Cornell University pada Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan cuaca yang sama pada masa lalu mungkin tetap menghasilkan gelombang panas, tetapi tingkat temperaturnya tidak akan setinggi sekarang.
“Jika pola cuaca yang sama terjadi 50 atau 100 tahun lalu, itu juga menghasilkan gelombang panas, tetapi sedikit lebih sejuk,” kata Lehner.
Gelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat pada 2026 bahkan kembali memecahkan sejumlah rekor temperatur.
Menurut Lehner, hal tersebut memperlihatkan bagaimana pemanasan global menaikkan titik awal temperatur ketika fenomena cuaca panas terjadi.
Gelombang panas bukan hanya berbahaya bagi kesehatan manusia, tetapi juga memberikan tekanan terhadap ketersediaan air.
Pada Maret 2026, Lehner turut memperingatkan mengenai gelombang panas di Amerika Serikat bagian barat ketika tumpukan salju di wilayah tersebut sudah berada dalam kondisi rendah.
“Gelombang panas yang diperkirakan terjadi di Amerika Serikat bagian barat dalam beberapa minggu mendatang sangat luar biasa,” kata Lehner.
Ia ketika itu memperkirakan sejumlah rekor temperatur dapat kembali pecah.
“Beberapa rekor suhu diperkirakan akan terlampaui,” ujarnya.
Kondisi panas juga berpotensi mempercepat pencairan tumpukan salju yang berfungsi sebagai salah satu sumber air bagi wilayah tersebut.
Pada April 2026, Lehner bahkan menyebut kondisi kekurangan salju tahun tersebut dapat menjadi standar baru untuk menggambarkan buruknya kekeringan salju.
“Tahun ini sangat luar biasa,” kata Lehner.
Pemanasan global juga menyebabkan mencairnya sejumlah lapisan es terbesar di bumi, termasuk lapisan es Greenland.
Pencairan tersebut ikut mendorong kenaikan permukaan laut yang dapat terus berlangsung selama berabad-abad atau bahkan lebih lama.
Gelombang panas laut juga menjadi semakin sering dan ekstrem akibat meningkatnya suhu laut.
Fenomena tersebut meningkatkan risiko kematian massal terumbu karang sekaligus mengancam berbagai spesies ikan yang bergantung pada ekosistem karang.
Perubahan iklim juga dapat meningkatkan tingkat keparahan kekeringan di sejumlah wilayah.
Salah satu contoh terlihat pada kekeringan berkepanjangan di wilayah barat daya Amerika Serikat.
Secara historis, kekeringan panjang dapat menurunkan hasil pertanian secara signifikan dan memberikan tekanan terhadap ketersediaan air.
Pada saat bersamaan, atmosfer yang semakin hangat mampu menampung lebih banyak uap air.
Kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya hujan ekstrem yang kemudian dapat memicu banjir besar.
Suhu laut yang semakin tinggi juga menyediakan energi tambahan bagi badai dan siklon tropis.
Meski demikian, pembentukan dan kekuatan badai tetap dipengaruhi berbagai faktor atmosfer dan kondisi cuaca yang kompleks.
National Oceanic and Atmospheric Administration atau NOAA memperkirakan intensitas siklon berpotensi meningkat dalam dunia yang memanas sekitar 2 derajat Celsius.
Namun, penelitian mengenai hubungan perubahan iklim dengan penguatan intensitas badai masih terus berkembang.
Jika pemanasan global mencapai 2 derajat Celsius, sejumlah dampak perubahan iklim diperkirakan meningkat secara signifikan dibandingkan kondisi sekarang.
Lehner memperkirakan banyak dampak tersebut dapat meningkat hingga sekitar dua kali lipat dalam frekuensi maupun tingkat keparahannya.
“Pada pemanasan 2 derajat Celsius, banyak dampak bisa menjadi kira-kira dua kali lebih sering atau dua kali lebih parah dibandingkan sekarang,” kata Lehner.
Namun, ia mengingatkan respons sistem iklim tidak selalu bergerak secara linear.
Artinya, setiap tambahan pecahan derajat pemanasan dapat menghasilkan konsekuensi yang berbeda pada masing-masing wilayah dan sistem alam.
Pengalaman masa lalu juga menunjukkan kejadian yang sebelumnya dianggap sangat tidak mungkin dapat muncul dalam iklim yang telah memanas.
Ketika gelombang panas ekstrem melanda Pacific Northwest pada 2021, Lehner mengatakan peristiwa tersebut berada jauh di luar pengalaman historis kawasan itu.
“Episode Pacific Northwest sangat ekstrem sehingga tidak cocok dengan pendekatan pemodelan standar kami,” ujar Lehner.
Ia bahkan menggambarkan betapa luar biasanya kejadian tersebut apabila dibandingkan dengan iklim sebelum pemanasan akibat aktivitas manusia.
“Dalam istilah manusia, peristiwa ini seharusnya tidak mungkin terjadi,” kata Lehner.
Kesimpulan ilmiah saat itu menyatakan gelombang panas Pacific Northwest tersebut nyaris mustahil terjadi tanpa perubahan iklim yang disebabkan manusia.
Fenomena semacam itu menjadi gambaran bagaimana peningkatan suhu rata-rata dapat menggeser batas ekstrem yang sebelumnya dikenal manusia.
Karena itu, pembatasan kenaikan suhu bumi menjadi semakin penting untuk mengurangi skala kerusakan perubahan iklim.
Setiap tambahan kenaikan temperatur yang dapat dicegah akan memengaruhi tingkat risiko yang harus dihadapi generasi mendatang.
Pengurangan emisi secara cepat dan berkelanjutan menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan seberapa jauh suhu global akhirnya meningkat.
Dunia memang sudah bergerak menjauh dari sejumlah skenario pemanasan paling ekstrem berkat kemajuan energi bersih dan kebijakan iklim.
Namun, arah akhirnya masih sangat bergantung pada keputusan manusia dalam beberapa dekade ke depan.
“Tren biaya energi bersih yang menurun, penerapan yang cepat, dan kebijakan iklim yang lebih kuat diharapkan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang,” tulis Hausfather.
Meski optimistis terhadap peluang tersebut, Hausfather juga mengingatkan bahwa kemajuan itu tidak dapat dianggap pasti.
“Hal itu sama sekali belum terjamin,” tulisnya.
Generasi mendatang tetap akan menghadapi kenaikan permukaan laut dan berbagai konsekuensi perubahan iklim yang telah terlanjur terjadi.
Namun, tingkat keparahan dunia yang mereka warisi masih sangat bergantung pada kemampuan manusia membatasi pemanasan global mulai dari sekarang.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]