"Tentu saja kami menggunakan AI di sepanjang jalan dan AI akan menjadi fasilitator serta pengaktif yang sangat besar untuk hal itu," lanjut Winters merujuk pada pembaruan sistem perbankan inti mereka.
Di sisi lain, tantangan geopolitik global akibat konflik Iran yang berkepunahan juga membayangi prospek bisnis bank di kawasan Asia Pasifik, di mana kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan risiko kredit macet. Guna memitigasi risiko tersebut, Standard Chartered bahkan telah menyisihkan dana cadangan pencegahan sebesar US$ 190 juta (Rp 3,36 triliun) pada kuartal pertama tahun ini yang terkait langsung dengan dampak konflik di Timur Tengah.
Baca Juga:
Dorong Mobilitas Hijau, SPKLU Signature ZORA Hadir dengan Teknologi AI dan Ultra Fast Charging
Terlepas dari tekanan eksternal tersebut, kinerja keuangan korporasi dilaporkan tetap menunjukkan tren positif yang solid berkat fokus bisnis pada segmen ritel kaya (affluent) serta divisi perbankan korporasi dan investasi. Keberhasilan restrukturisasi jangka panjang ini diklaim mampu membawa perusahaan mencapai target finansial lebih cepat dari yang diproyeksikan semula.
"Kami mencapai target keuangan jangka menengah tahun 2026 kami setahun lebih awal dari yang direncanakan," kata Winters dalam sebuah pernyataan resmi.
"Kami sekarang memiliki organisasi yang lebih terfokus, efisien, dan ramping," pungkas Winters.
Baca Juga:
Angka Kejahatan Turun 22 Persen, Efek Hologram Polisi di Taman Seoul
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.