Cahyo
mengatakan, tindakan ini memang bukan kejahatan yang mudah diidentifikasi.
"Kami
sudah potret semuanya. Ini bukanlah kejahatan yang mudah diidentifikasi,"
kata dia.
Baca Juga:
Pertamina Peringati Hari Jadi dengan Penghijauan
Hasil
Investigasi
Cahyo
mengakui, pihak Undip memang mendapatkan "serangan" yang
mengakibatkan bocornya data mahasiswa.
Baca Juga:
Undip Bebaskan UKT Mahasiswa Terdampak Banjir Sumatera, Beri Bantuan Hidup Hingga Normal
Serangan
dimulai dengan menggunakan perangkat lunak open
source "Nuclei", yang berfungsi memindai dan menemukan kelemahan server.
Dari
catatan Undip, pemindaian menggunakan "Nuclei" telah terjadi pada Oktober 2020.
Tercatat
juga bahwa usaha untuk memasuki server
ini dari berbagai negara, yakni Belanda, China, Hongkong, dan Meksiko.