Demokrasi dan
terorisme, misalnya, tidak bisa dilihat seperti ketika kita beternak kambing.
Ia juga
berbeda dari mesin yang lebih predictable dan tidak banyak
berubah.
Baca Juga:
Multigrade Berhasil, Pengalaman Probolinggo Diapresiasi
Karena itu,
seperti dalam kasus terorisme, meski persoalan ekonomi masyarakat membaik, tak
serta-merta terorisme hilang.
Sebagaimana
terjadi di Eropa dan beberapa kasus bom bunuh diri di Indonesia, para pelaku
bukanlah orang miskin.
Ada faktor
lain yang menyebabkan terorisme, seperti perilaku polisi dan pejabat pemerintah
yang membuat mereka marah dan kemudian memilih jalan terorisme.
Baca Juga:
KSAD Pimpin Sertijab Mantan Karo Humas Kemenhan Jadi Danseskoad
Demikian juga
dengan proses demokrasi di Indonesia.
Ia bisa
banyak dipengaruhi oleh oligarki dan populisme.
Jika
paradigma yang dipakai dalam melihat fenomena sosial kemanusiaan itu sama
dengan kacamata dalam melihat mesin, kita akan kehilangan dimensi manusia itu
sendiri.