Caranya bukan
dengan mengekang ilmuwan atau peneliti, melainkan memberikan kebebasan tanpa
batas bagi para ilmuwan dalam melakukan eksperimen, termasuk membunuh atau
menjadikan manusia hidup sebagai obyek ekperimentasi ilmiah (Heim, Sachse,
& Walker 2009, 10).
Tidak ada
etika dan empati.
Baca Juga:
Multigrade Berhasil, Pengalaman Probolinggo Diapresiasi
Terakhir,
perlu keseimbangan ketika melihat ilmu eksakta dan non-eksakta, terutama dalam
arsitektur ilmu pengetahuan nasional dan dalam pengembangan BRIN.
Selain
perlunya keseimbangan, publikasi dan inovasi perlu dilihat sebagai dua sisi
mata uang, bukan sebagai dua hal yang saling berhadapan.
Karena itu, akademisi dan peneliti
tidak dituntut untuk memilih salah satunya, tetapi perlu melihatnya sebagai dua
hal yang saling melengkapi. (Ahmad Najib Burhani, Profesor Riset di LIPI
dan Anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia)-qnt
Baca Juga:
KSAD Pimpin Sertijab Mantan Karo Humas Kemenhan Jadi Danseskoad
Artikel ini sudah tayang di Kompas.id dengan judul "Publikasi versus Inovasi". Klik untuk
baca: www.kompas.id/baca/opini/2021/08/27/publikasi-versus-inovasi/.
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.