WAHANANEWS.CO, Jakarta - Fakta baru tentang letusan dahsyat Gunung Toba terungkap dan mengguncang anggapan lama bahwa bencana supervulkanik tersebut nyaris membawa umat manusia menuju kepunahan.
Penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan dari Jerman menunjukkan bahwa letusan Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu memang menjadi salah satu letusan vulkanik terbesar dalam 2,6 juta tahun terakhir, tetapi dampaknya terhadap manusia dan iklim ternyata tidak sebesar yang selama ini diperkirakan.
Baca Juga:
Danau Toba Dikaji Jadi KEK, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Ciptakan Pusat Pertumbuhan Baru Sumatera Utara
Kaldera raksasa yang kini menjadi Danau Toba di Sumatera Utara diperkirakan memuntahkan ribuan kilometer kubik magma hanya dalam waktu sekitar dua minggu dengan volume material mencapai sekitar 1.000 kali lebih besar dibandingkan letusan Gunung Pinatubo pada 1991.
"Orang-orang mengira letusan itu menyebabkan pendinginan besar-besaran di planet ini, sehingga mengancam kelangsungan hidup nenek moyang kita," kata ahli geosains dari Johannes Gutenberg University Mainz, Jerman, Jinheum Park, dikutip Sabtu (15/8/2026).
Park bersama rekan-rekannya kemudian memburu jejak dampak bencana tersebut melalui endapan lumpur di dasar Danau Chala, sebuah danau kawah kecil yang terletak di perbatasan Kenya dan Tanzania.
Baca Juga:
Di Balik Indahnya Air Terjun Sitapigagan, Ada Mitos yang Bikin Wisatawan Penasaran
Alih-alih menemukan bukti terjadinya musim dingin vulkanik atau volcanic winter berkepanjangan, para peneliti justru menemukan indikasi bahwa dampak utama letusan Toba kemungkinan hanya berlangsung sekitar 18 bulan.
Letusan gunung berapi berskala besar pada umumnya melepaskan sulfur dioksida ke stratosfer yang kemudian berubah menjadi aerosol sulfat, memantulkan sinar Matahari, dan dapat menyebabkan penurunan temperatur global.
Perkiraan mengenai jumlah sulfur yang dilepaskan dalam letusan Toba selama ini sangat bervariasi sehingga berbagai simulasi iklim menghasilkan skenario yang sangat berbeda, mulai dari ancaman besar terhadap kelangsungan hidup manusia hingga sekadar gangguan cuaca yang relatif ringan.