"Lapisan terang yang terbentuk hampir dua tahun setelah letusan sangat khas untuk Danau Chala," ujar Park.
Berdasarkan rangkaian bukti yang ditemukan pada sedimen tersebut, tim peneliti menyimpulkan bahwa dampak utama letusan supervulkanik Toba kemungkinan besar berlangsung sekitar 18 bulan dan tidak menyebabkan gangguan iklim berkepanjangan seperti yang selama ini dikhawatirkan.
Baca Juga:
Danau Toba Dikaji Jadi KEK, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Ciptakan Pusat Pertumbuhan Baru Sumatera Utara
Dampak Letusan terhadap Suhu Bumi
Para ilmuwan juga berusaha mengukur seberapa besar penurunan temperatur akibat letusan Toba dengan menganalisis rasio silikon terhadap aluminium serta mangan terhadap besi yang tersimpan dalam sedimen Danau Chala.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penurunan suhu regional yang terjadi setelah letusan diperkirakan hanya berada di kisaran 0,5 derajat Celsius.
Baca Juga:
Di Balik Indahnya Air Terjun Sitapigagan, Ada Mitos yang Bikin Wisatawan Penasaran
"Begitulah kami memperoleh perkiraan pendinginan sekitar 0,5 derajat Celsius," kata Park.
Temuan pada lapisan sedimen tersebut sekaligus memungkinkan para ilmuwan memperkirakan waktu terjadinya letusan Gunung Toba secara lebih presisi dibandingkan sejumlah perkiraan sebelumnya.
Berdasarkan posisi lapisan abu vulkanik di dalam sedimen Danau Chala, letusan besar tersebut kemungkinan terjadi pada Januari atau Februari dan bukan pada musim yang sebelumnya digunakan dalam sejumlah pemodelan iklim.