Park menjelaskan bahwa letusan Toba memang menyebabkan penurunan temperatur dan kondisi yang lebih kering, tetapi perubahan tersebut diperkirakan tidak cukup ekstrem untuk secara signifikan mengancam kelangsungan hidup manusia pada masa itu.
"Studi kami menunjukkan bahwa besarnya pendinginan dan pengeringan setelah Toba jauh lebih kecil dan masih berada dalam kisaran variasi alami selama siklus glasial dan interglasial," ujar Park.
Baca Juga:
Danau Toba Dikaji Jadi KEK, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Ciptakan Pusat Pertumbuhan Baru Sumatera Utara
Menurut Park, manusia pada masa tersebut telah menghadapi berbagai perubahan kondisi lingkungan sehingga dampak yang muncul setelah letusan Toba kemungkinan masih berada dalam batas yang dapat mereka lalui.
"Manusia sudah pernah mengalami dan bertahan melewati kondisi itu," ujar Park.
Afrika Timur pada periode tersebut juga diketahui sedang mengalami tren alami menuju kondisi iklim yang semakin dingin dan kering sehingga perubahan akibat letusan Toba harus dilihat bersama variasi iklim alami yang telah berlangsung.
Baca Juga:
Di Balik Indahnya Air Terjun Sitapigagan, Ada Mitos yang Bikin Wisatawan Penasaran
Jika dibandingkan dengan besarnya variasi iklim alami tersebut, penelitian menunjukkan bahwa pengaruh letusan Toba terhadap kondisi lingkungan di kawasan itu tergolong relatif kecil.
Meski menghasilkan gambaran baru mengenai dampak salah satu letusan terbesar dalam sejarah Bumi, Park mengakui penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan karena sumber data utamanya berasal dari satu danau di Afrika Timur.
"Danau ini merekam sinyal iklim regional di Afrika Timur, tetapi tidak menunjukkan dampaknya terhadap seluruh dunia," ujar Park.