Menurut Faisal, gempa utama magnitudo 7,7 dengan pusat gempa pada kedalaman sekitar 15 kilometer tersebut dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.
Karakter pusat gempa yang relatif dangkal membuat guncangan yang mencapai permukaan cukup kuat hingga mengakibatkan kerusakan fisik pada bangunan dan sejumlah infrastruktur masyarakat.
Baca Juga:
Gempa M7,7 NTT Ternyata Terbesar Kedua Dunia 2026, Ini 11 Gempa Paling Dahsyat
Gempa besar tersebut juga memicu gelombang tsunami yang terobservasi tidak hanya di kawasan Nusa Tenggara, tetapi hingga sejumlah pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan data jaringan pemantauan muka air laut atau tide gauge, tsunami mencapai Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak tercatat sekitar 1,61 meter.
Gelombang tsunami di Maurole, Kabupaten Ende, tercatat mencapai ketinggian sekitar 0,94 meter.
Baca Juga:
441 Ribu Pelanggan Kembali Terlayani, ALPERKLINAS Apresiasi Kerja Cepat PLN Pascagempa NTT
Sementara itu, tinggi gelombang di kawasan Bulukumba dan Sape, Bima, tercatat melampaui 0,5 meter.
BMKG kemudian secara resmi mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada Sabtu (15/8/2026) pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka air laut kembali aman.
Gempa besar tersebut kembali mengarahkan perhatian terhadap keberadaan Flores Back Arc Thrust sebagai salah satu struktur geologi aktif yang memiliki potensi menghasilkan gempa kuat di kawasan Nusa Tenggara.