Bencana tersebut menelan lebih dari 2.500 korban jiwa dan meninggalkan kerusakan besar di kawasan terdampak.
Keaktifan sistem sesar naik busur belakang juga dikaitkan dengan rangkaian gempa bumi destruktif yang mengguncang Lombok pada pertengahan 2018.
Baca Juga:
Gempa M7,7 NTT Ternyata Terbesar Kedua Dunia 2026, Ini 11 Gempa Paling Dahsyat
Catatan kejadian tersebut memperlihatkan bahwa kawasan busur belakang Nusa Tenggara memiliki aktivitas tektonik yang perlu terus dipantau.
Setelah gempa Nagekeo magnitudo 7,7, dinamika tektonik di wilayah tersebut masih berlangsung dengan munculnya ratusan gempa susulan.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di kawasan pesisir utara Nusa Tenggara Timur, untuk tetap tenang sekaligus mempertahankan kewaspadaan selama aktivitas gempa susulan masih berlangsung.
Baca Juga:
441 Ribu Pelanggan Kembali Terlayani, ALPERKLINAS Apresiasi Kerja Cepat PLN Pascagempa NTT
Masyarakat juga diminta menyaring setiap informasi mengenai gempa dan tsunami secara bijak serta tidak mudah terpengaruh isu maupun rumor menyesatkan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Informasi mengenai perkembangan aktivitas gempa bumi dan potensi bahaya diharapkan diperoleh melalui BMKG maupun sumber resmi pemerintah agar masyarakat tidak terjebak informasi yang keliru.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.