Patahan tersebut terbentuk akibat proses kompresi tektonik ketika kerak samudra di Cekungan Flores terdorong dan menunjam ke bawah busur kepulauan gunung api Nusa Tenggara.
Karakteristik pergerakan naik atau thrust fault yang relatif dangkal membuat sesar tersebut mampu menyebabkan perpindahan dasar laut dan massa air secara mendadak apabila terjadi gempa dengan kekuatan besar.
Baca Juga:
Gempa M7,7 NTT Ternyata Terbesar Kedua Dunia 2026, Ini 11 Gempa Paling Dahsyat
Flores Back Arc Thrust memiliki bentangan sangat panjang hingga mencapai ratusan kilometer di kawasan lepas pantai utara Kepulauan Flores, Sumbawa, Lombok, hingga Cekungan Bali.
Bentangan sesar tersebut membuat sejumlah kawasan pesisir utara Nusa Tenggara berada di wilayah yang memiliki potensi terdampak gempa bumi maupun tsunami.
Catatan sejarah menunjukkan pelepasan energi dari jalur sesar tersebut telah beberapa kali memicu gempa bumi destruktif di kawasan Nusa Tenggara.
Baca Juga:
441 Ribu Pelanggan Kembali Terlayani, ALPERKLINAS Apresiasi Kerja Cepat PLN Pascagempa NTT
Gempa kali ini juga mengingatkan kembali pada bencana besar yang pernah mengguncang Flores lebih dari tiga dekade sebelumnya.
"Dari sejarah yang ada pernah terjadi tahun 1992 magnitudo 7,5," paparnya.
Catatan mengenai gempa bersejarah tersebut menunjukkan Flores memang pernah menghadapi bencana besar yang mengakibatkan kerusakan sangat luas.