"Untuk pusat data bawah laut dengan skala yang sama, listrik yang digunakan untuk pendinginan hanya akan mencapai sekitar sepersepuluh dari total konsumsi daya," kata Li, dilansir dari China Daily, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, pusat data di China saat ini mengonsumsi sekitar 250 miliar kilowatt-jam listrik per tahun, dengan sekitar 80 miliar kWh di antaranya digunakan untuk pendinginan.
Baca Juga:
Karyawan Dendam Usai Dipecat, Hapus Server Perusahaan hingga Picu Kerugian Rp 11 M
"Jika pusat data dengan skala yang sama ditempatkan di bawah air, bahkan dengan memperhitungkan margin tambahan, konsumsi pendinginan dapat turun menjadi sekitar 30 miliar kWh," jelasnya.
"Itu akan menghemat sekitar 50 miliar kWh listrik setiap tahun," sambung dia.
Li memperkirakan, penghematan tersebut setara dengan mengurangi pembakaran sekitar 15 juta ton batubara standar setiap tahun, sehingga berpotensi menekan emisi karbon secara signifikan.
Baca Juga:
Bey Machmudin Pastikan Website PPDB 2024 Normal
Pengembangan pusat data bawah laut ini juga menunjukkan strategi baru China dalam membangun infrastruktur era AI, yakni dengan mengintegrasikan sistem energi, pendinginan, dan komputasi dalam satu ekosistem terpadu.
Menurut Li, China yang selama ini dikenal sebagai pusat manufaktur terbesar di dunia kini mulai membangun fondasi infrastruktur generasi berikutnya untuk mendukung pertumbuhan AI, terutama di wilayah pesisir yang menghadapi keterbatasan lahan, listrik, dan sumber daya air tawar.
[Redaktur: Alpredo Gultom]