WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tren dupe culture yang digandrungi generasi muda dinilai bukan ancaman, melainkan peluang emas untuk mendorong kebangkitan brand lokal dan industri nasional.
Senin (30/03/2026) -- Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menyampaikan bahwa fenomena produk dupe yang menawarkan fungsi serupa barang premium dengan harga lebih terjangkau semakin berkembang di kalangan Gen Z dan milenial, dipicu oleh pengaruh media sosial serta perubahan pola konsumsi.
Baca Juga:
Vonis ABK Penyelundup 2 Ton Sabu Picu Sorotan, Publik Pertanyakan Keadilan
“Fenomena membeli barang dupe kini justru dianggap pintar daripada sekadar memaksakan diri membeli barang branded, mencerminkan pola pikir konsumen yang lebih selektif pada nilai fungsi,” ujarnya.
Ia menilai tren tersebut dapat menjadi peluang strategis bagi pelaku usaha lokal untuk menghadirkan produk kreatif yang kompetitif tanpa harus meniru identitas merek secara ilegal.
“Penting untuk kita membedakan antara barang tiruan dan barang KW, produk-produk dupe sejatinya tidak menggunakan logo atau branding merek aslinya meski demikian kita lebih mendorong ke arah paradigma designer inspired (terinspirasi karya desainer),” jelasnya.
Baca Juga:
LHKPN 2025 Hampir Ditutup, KPK Ingatkan Kejujuran dan Kepatuhan
Menurutnya, pendekatan amati, tiru, dan modifikasi merupakan praktik umum dalam dunia industri selama menghasilkan inovasi baru dan tidak sekadar menjiplak.
“Dalam dunia bisnis, praktik amati, tiru, modifikasi lazim dilakukan sebagai bentuk pembelajaran industri. Selama proses tersebut menghasilkan inovasi baru, bukan sekadar plagiasi,” ujarnya.
Ia mencontohkan negara seperti China dan Korea Selatan yang pada tahap awal industrialisasi mengadaptasi produk luar sebelum mampu menciptakan inovasi dan jenama global sendiri.