"Ini harus jadi peringatan dini, apalagi kita akan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang," lanjutnya.
Berdasarkan data BMKG, Provinsi Riau mencatat jumlah titik panas tertinggi di Pulau Sumatera pada periode 1 Januari hingga 25 Maret 2026 dengan 302 titik dari total 582 titik panas di Sumatera, sementara data BNPB menunjukkan luas karhutla di Riau mencapai 2.713,26 hektare dalam periode 1 Januari hingga 24 Maret 2026.
Baca Juga:
Tiga Daerah Sumsel Tetapkan Status Siaga Karhutla Jelang Musim Kemarau Mei 2026
Rajiv menegaskan prediksi musim kemarau 2026 yang datang lebih cepat, lebih kering, dan lebih panjang menjadi kombinasi berbahaya yang perlu diantisipasi serius.
"Ini kombinasi sangat berbahaya," kata Rajiv.
Ia menambahkan bahwa data BMKG harus dijadikan alarm penting agar pemerintah tidak kembali kecolongan seperti pada kejadian sebelumnya.
Baca Juga:
Dampak El Nino Ekstrem dan Buruknya Tata Kelola, WALHI Ungkap 11 Ribu Titik Panas di RI
"Data BMKG harus jadi alarm serius bagi kita semua," ujarnya.
Rajiv menjelaskan bahwa penyebab karhutla tidak hanya faktor cuaca, tetapi juga aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih sering terjadi.
Ia menambahkan bahwa setiap musim kemarau jumlah titik panas meningkat signifikan, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.