“Apalagi India, Jepang, dan Korea sangat menggantungkan kebutuhan energinya dari jalur impor, bahkan di atas 70 persen,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu persaingan ketat antarnegara dalam memperebutkan pasokan energi di pasar global.
Baca Juga:
Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Penyaluran dan Perkuat Distribusi BBM di Sejumlah Wilayah
“Akibatnya, Indonesia akan saling sikut dengan negara lain untuk mengamankan pasokan energinya masing-masing,” lanjutnya.
Eddy juga mengingatkan bahwa situasi serupa pernah terjadi saat pandemi COVID-19, ketika berbagai negara berlomba mendapatkan vaksin dengan harga tinggi demi melindungi warganya.
Menurutnya, kondisi itu bisa terulang dalam konteks energi apabila krisis semakin dalam.
Baca Juga:
Dari Bahan Sampah Plastik Warga RI Bikin Solar Premium, Aman Dipakai!
“Cerita yang sama bisa saja terulang untuk BBM karena seluruh negara di dunia berupaya keras menghindari krisis energi yang dapat mematikan roda perekonomian dan menimbulkan keresahan sosial,” kata dia.
Ia menekankan pentingnya keandalan pasokan energi dibanding sekadar ketersediaannya dalam situasi global saat ini.
“Oleh karenanya, saya berharap kita memiliki pasokan impor migas yang dapat diandalkan, mengingat reliability of supply (keandalan pasokan) saat ini lebih penting dari avaliability of supply (ketersediaan pasokan),” sambung Eddy.