WAHANANEWS.CO, Jakarta - Direktur KCI-LSI, Denny JA, Adjie AlFaraby, mengungkapkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilkada Serentak 2024 menunjukkan penurunan, terutama di tujuh provinsi terbesar Indonesia.
Menurutnya, jumlah masyarakat yang memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya atau golput meningkat secara signifikan di provinsi-provinsi seperti Sumatera Utara, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.
Baca Juga:
Angka Partisipasi Pilkada Jakarta Terendah Sepanjang Sejarah, Tim Rido Kritik Kinerja KPU
“Melalui hasil hitung cepat, selain memantau perolehan suara kandidat, kita juga dapat mengukur tingkat partisipasi pemilih. Golput, yang merupakan lawan dari partisipasi pemilih, menjadi indikator penting,” ujar Adjie dalam konferensi pers di Jakarta Timur, Rabu (4/12/2024).
Ia menekankan bahwa meningkatnya angka golput menjadi ancaman bagi keberlanjutan demokrasi. Sebab, esensi demokrasi terletak pada partisipasi masyarakat, dan rendahnya angka partisipasi pemilih melemahkan fondasi tersebut.
Adjie menambahkan, pemimpin yang terpilih melalui voter turnout rendah tetap sah secara prosedural, tetapi kehilangan legitimasi moral.
Baca Juga:
Warga Begantung Kalbar Boikot Pilkada Serentak Gegara Listrik
“Jika hanya sebagian kecil rakyat yang memilih, bagaimana mereka bisa benar-benar mewakili suara publik? Hilangnya rasa keterwakilan ini membuka jarak antara rakyat dan pemimpin, melemahkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan sosial,” jelasnya.
Adjie juga menyoroti bahwa golput memperburuk polarisasi. Dalam kondisi partisipasi rendah, hanya kelompok militan yang mendominasi, menjadikan demokrasi arena persaingan antar kelompok kecil, bukan ajang konsensus bersama.
Selain itu, rendahnya voter turnout mendorong elitisme politik, di mana pemimpin lebih fokus pada kepentingan pendukung aktif mereka.
“Golput kerap menjadi cerminan kekecewaan, seperti akibat korupsi, janji yang tak ditepati, atau ketidakpuasan terhadap kandidat yang dianggap tidak merepresentasikan aspirasi publik,” katanya.
Menurutnya, demokrasi yang sejati memerlukan lebih dari sekadar sistem, tetapi juga partisipasi aktif rakyat. Meningkatnya angka golput menjadi gambaran demokrasi yang perlahan kehilangan energinya.
Adjie menyerukan perlunya membangkitkan kembali semangat pemilih untuk menjaga demokrasi tetap hidup.
“Ketika angka golput naik, demokrasi kehilangan cahayanya. Kita perlu membangun kembali kepercayaan masyarakat bahwa Pilkada adalah sarana untuk meningkatkan kualitas hidup mereka,” tuturnya.
Berdasarkan hasil hitung cepat, angka golput di beberapa provinsi besar tercatat cukup tinggi, yakni: Jawa Barat 36,98%, Jawa Timur 34,68%, Jawa Tengah 32,36%, Banten 36,10%, Sumatera Utara 38,22%, Sulawesi Selatan 29,84%, dan DKI Jakarta mencapai 46,91%.
Secara keseluruhan, rata-rata angka golput di tujuh provinsi ini mencapai 37,63%, meningkat 6,23% dibandingkan Pilkada 2019 yang mencatat rata-rata golput sebesar 31,40%.
Artinya, sekitar 30% hingga 47% pemilih di tujuh provinsi besar memilih untuk tidak berpartisipasi dalam Pilkada 2024.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]