WAHANANEWS.CO - Sidang kasus dugaan pemerasan pengurusan sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaan kembali memanas setelah hakim sampai melontarkan kalimat "terserah Bapak" kepada salah satu terdakwa yang terus mengaku tidak tahu soal praktik pemerasan di lingkungan Kemnaker.
Kasus dugaan pemerasan pengurusan sertifikat dan lisensi K3 ini menyeret 11 terdakwa, termasuk eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer Gerungan atau Noel serta sejumlah pejabat di Direktorat Binwasnaker dan K3.
Baca Juga:
Tragis Anggota BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran Saat Awasi Renovasi Rumah
Jaksa mendakwa para terdakwa memaksa pemohon sertifikasi dan lisensi K3 memberikan uang dengan total mencapai Rp6,5 miliar sejak 2021 atau sebelum Noel menjabat sebagai Wamenaker.
Salah satu terdakwa, Fahrurozi, mengaku menerima uang rutin sebesar Rp20 juta per bulan setelah dilantik menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Binwasnaker dan K3.
Hal itu diungkap Fahrurozi saat diperiksa sebagai terdakwa dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Kamis (07/05/2026).
Baca Juga:
Viral Siswi SMK di Garut Histeris usai Rambut Digunting Guru BK
"Berarti ini tiap bulan ya, Pak?" tanya jaksa.
"Kelihatannya seperti itu, Pak," jawab Fahrurozi.
Fahrurozi menyebut total uang yang diterimanya mencapai Rp100 juta dan diberikan oleh Hery Sutanto selaku Direktur Bina Kelembagaan.
"Jadi ini setiap bulan setelah Saudara dilantik jadi Plt Dirjen, Saudara terima dari Pak Herry Sutanto. Total Rp 100 juta?" tanya jaksa.
"Betul," jawab Fahrurozi.
Di hadapan majelis hakim, Fahrurozi berdalih awalnya tidak mengetahui uang tersebut berasal dari praktik ucapan terima kasih Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3).
"Pada saat pemberian saya tidak tahu. Tapi setelah saya tanyakan ke Pak Herry pada bulan Oktober, itu baru saya tahu, baru jelas bahwa itu adalah uang terima kasih dari PJK3," ujar Fahrurozi.
Hakim kemudian menyoroti pengakuan Fahrurozi yang terus menyebut tidak mengetahui praktik pemerasan yang disebut berlangsung selama bertahun-tahun di lingkungan Kemnaker.
"Pak, bapak ada di sana. Kejadian itu kan berlangsung bertahun tahun pak, masak sampai nggak dengar itu loh orang di sana," ujar hakim.
"Betul, saya memang nggak dengar," jawab Fahrurozi.
Hakim kembali mempertanyakan pengakuan Fahrurozi karena para saksi lain disebut mengetahui praktik tersebut.
"Semua saksi ini orang Kemnaker kemarin Pak, mereka tahu semua. Berarti hanya satu-satunya saja Bapak yang tidak tahu," ujar hakim.
"Betul Yang Mulia, karena mereka rata-rata semua orang di dalam situ, Yang Mulia," jawab Fahrurozi.
Percakapan di ruang sidang pun semakin memanas saat Fahrurozi tetap mengaku tidak memahami berbagai hal terkait proses pengurusan sertifikat K3.
"Bapak pahamnya apa Pak? Saya bingung dari tadi Bapak semuanya nggak paham," kata hakim.
"Betul memang Yang Mulia, saya orang baru banget di situ dan sepanjang karir saya, tidak pernah ada di situ dan orang-orangnya juga saya juga banyak yang nggak kenal di situ," jawab Fahrurozi.
"Terserah Bapak ya," sahut hakim.
Dalam sidang yang sama, eks Wamenaker Immanuel Ebenezer alias Noel juga membantah pernah meminta motor Ducati Scrambler kepada Irvian Bobby Mahendro yang dijuluki 'sultan' Kemnaker.
Noel mengklaim pemberian motor tersebut justru berasal dari inisiatif Bobby yang disebut kerap membahas komunitas motor dengannya.
"Nah, sejarahnya motor Ducati itu gimana?" tanya jaksa.
"Ya waktu itu diskusi, dia cerita 'Pak Wamen, Pak Wamen hobi motor ya?' Saya bilang 'Nggak, saya nggak hobi motor'," jawab Noel.
Noel mengaku sempat menerima motor Ducati tersebut di rumahnya, namun merasa tidak nyaman karena ukuran motor terlalu besar dan tidak memiliki surat kendaraan.
"Dan sudah ada di rumah Saudara itu ya?" tanya jaksa.
"Iya karena ketika saya bicara, dan itu pun saya juga kaget karena motor itu tidak ada suratnya," kata Noel.
Noel juga membantah pernah bertanya kepada Bobby soal motor yang cocok untuk dirinya.
"Apakah pernah Bapak menanyakan ke Bobby, motor apa yang cocok buat saya?" tanya jaksa.
"Nggak pernah," jawab Noel.
Dalam kesaksiannya, Noel menyebut Bobby mendapat julukan 'sultan' Kemnaker karena gaya hidup mewah dan kebiasaannya berbelanja di pusat perbelanjaan elite Jakarta.
"Karena itu bahasa yang ada di Kemenaker tentang pola hidup si Bobby. Suka pakai mobil mewah, punya istri tiga, lantas dengan kehidupan, dan kemarin ya kita temukan ternyata dia top spender," ujar Noel.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]