Sementara itu, pendekatan kedua bersifat transformasional dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas alutsista dibandingkan kuantitas armada.
"Pendekatan ini mengedepankan kualitas dari kuantitas. Ini berarti lebih sedikit aset," kata dia.
Baca Juga:
Kapal Induk Hibah Italia Segera Perkuat TNI AL, Anggaran Difokuskan ke Retrofit
Dalam skema ini, meskipun jumlah aset lebih terbatas, setiap unit harus dibekali teknologi sensor dan sistem pengawasan mutakhir agar efektivitas pemantauan laut tetap maksimal.
"Harus dilengkapi dengan teknologi Resilient C6ISR (Command, Control, Communications, Computers, Combat Systems, Intelligence, Surveillance, dan Reconnaissance," kata Salim.
Ia menambahkan, kedua pendekatan tersebut akan sangat menentukan arah investasi pertahanan laut Indonesia di masa mendatang serta membentuk pola pembangunan kekuatan TNI AL secara keseluruhan.
Baca Juga:
Sebelum HUT TNI 2026, Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Ditargetkan Tiba di Indonesia
Dengan memilih dan menjalankan salah satu strategi tersebut secara konsisten, diyakini TNI AL akan lebih siap dan adaptif dalam mewujudkan sistem pertahanan blue water navy yang disegani di kawasan maupun global.
Caption: Laksamana Pertama Salim menyebut TNI AL memiliki dua opsi strategi untuk mewujudkan blue water navy, yakni pendekatan struktural dan transformasional.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.