Sementara itu, pendekatan kedua bersifat transformasional dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas alutsista dibandingkan kuantitas armada.
"Pendekatan ini mengedepankan kualitas dari kuantitas. Ini berarti lebih sedikit aset," kata dia.
Baca Juga:
Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI, Akhirnya Disetujui Senat Italia
Dalam skema ini, meskipun jumlah aset lebih terbatas, setiap unit harus dibekali teknologi sensor dan sistem pengawasan mutakhir agar efektivitas pemantauan laut tetap maksimal.
"Harus dilengkapi dengan teknologi Resilient C6ISR (Command, Control, Communications, Computers, Combat Systems, Intelligence, Surveillance, dan Reconnaissance," kata Salim.
Ia menambahkan, kedua pendekatan tersebut akan sangat menentukan arah investasi pertahanan laut Indonesia di masa mendatang serta membentuk pola pembangunan kekuatan TNI AL secara keseluruhan.
Baca Juga:
Ditolak Parlemen, Hibah Kapal Induk ke RI Justru Bikin Italia Hemat Ratusan Miliar
Dengan memilih dan menjalankan salah satu strategi tersebut secara konsisten, diyakini TNI AL akan lebih siap dan adaptif dalam mewujudkan sistem pertahanan blue water navy yang disegani di kawasan maupun global.
Caption: Laksamana Pertama Salim menyebut TNI AL memiliki dua opsi strategi untuk mewujudkan blue water navy, yakni pendekatan struktural dan transformasional.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.