Jumlah
pekerjanya tentu sangat sedikit, dibanding angka 2,85 milyar tadi.
Masalahnya,
para manusia ini juga tidak punya kecerdasan yang cukup untuk memahami
kerumitan bahasa manusia.
Baca Juga:
Pertanian Berbasis AI, Bupati Tapteng Harapkan Pendapingan Pemerintah Pusat
Mungkin
Facebook hanya sanggup menggaji
karyawan dengan gaji berstandar UMK untuk menangani persoalan ini.
Akibatnya
mereka bekerja dengan standar buruh pabrik.
Pola
kerjanya tak jauh berbeda dengan mesin: lihat teks, bandingkan dengan standar,
eksekusi, selesai.
Baca Juga:
BPJS Kesehatan Resmi Luncurkan Sistem AI untuk Deteksi Dini Fraud Klaim Medis
Bahkan
untuk sekadar memahami maksud kalimat saja mereka tidak sanggup.
Pertanyaan
menariknya, mungkinkah mesin memahami bahasa manusia sampai ke konteksnya?
Waktu Google mulai memperkenalkan Google Translator sekitar 15 tahun yang
lalu, saya sering tertawa membaca hasil terjemahannya.