WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di balik popularitas dan kesuksesannya saat ini, Baim Wong mengungkap fase hidup paling kelam yang pernah ia alami hingga nyaris kehilangan segalanya pada periode sekitar 2018 hingga 2020.
Momen itu menjadi titik balik yang tak terlupakan, terutama ketika Februari menjadi bulan penuh tekanan setelah dirinya tidak lagi aktif bermain sinetron yang selama ini menjadi sumber penghasilan utama.
Baca Juga:
Risiko Defisit Menghantui, Prabowo Tetap Pertahankan Program Makan Gratis
Perubahan drastis tersebut memaksanya menghadapi kenyataan pahit tanpa pemasukan tetap, sekaligus menandai awal perjuangan baru yang penuh ketidakpastian.
Keputusan meninggalkan dunia sinetron menjadi langkah berisiko yang membuat kondisi finansialnya terguncang hingga kesulitan memenuhi kewajiban seperti cicilan rumah.
Situasi semakin berat ketika tekanan ekonomi terus menghimpit, bahkan kebutuhan dasar pun menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Baca Juga:
Iran Balas Ultimatum Trump: Siap Bikin Negara Teluk Mati Lampu dan Kehausan
Di tengah kondisi tersebut, Baim memilih untuk tidak menyerah dan mulai mencari berbagai cara untuk bangkit dari keterpurukan.
“Saya sebenarnya banyak bangun restoran, sudah 10 restoran lah,” jelas Baim.
Upaya bisnis yang telah dirintis sejak 2007 itu ternyata belum memberikan hasil stabil dan justru banyak menguras keuangan.
“Ya uangnya kebanyakan habis di situ,” katanya.
Kondisi tersebut semakin sulit karena ia tidak terbiasa meminta bantuan finansial dari orang tuanya, meski sedang dalam kondisi terdesak.
“Susahnya itu karena nggak pernah minta lagi uang dari papa mama, ya itu nggak terbiasa untuk minta,” ujar Baim.
Tanpa pemasukan tetap, ia bahkan sempat berada di titik di mana harus mempertimbangkan menjual aset pribadi demi bertahan hidup.
“Ya akhirnya nggak punya uang, ya maunya jual barang,” bebernya.
Mobil pribadinya, sebuah Alphard, sempat hampir dilepas karena tekanan finansial yang dihadapi saat itu.
“Mobil Alphard saya ingat banget sempat mau saya jual,” ujarnya.
Namun situasi mulai berubah ketika ia mendapatkan pekerjaan baru yang membuatnya urung menjual aset tersebut.
“Akhirnya dapat kerjaan, ya nggak jadi jual,” kata dia.
Dalam fase tanpa pekerjaan itulah, Baim mulai merintis kanal YouTube yang awalnya hanya dilakukan karena tidak memiliki aktivitas lain.
“Dari nggak ada kerjaan sampai buat YouTube karena nggak ada kerjaan,” katanya.
Tanpa disangka, langkah tersebut justru menjadi titik balik besar dalam hidupnya hingga mampu mengubah kondisi finansialnya secara signifikan.
“Sangat, sangat, YouTube jadi titik balik,” ujar Baim.
Konten berbagi yang ia lakukan kepada masyarakat luas mendapat respons besar dan menjadi daya tarik utama kanalnya.
“Nggak sengaja karena kita video yang suka bagi-bagi buat orang senang, dulu kan namanya social experiment,” tutur dia.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari pentingnya beradaptasi dalam dunia hiburan yang terus berubah.
“Kalau saya tambah lama tambah berumur, masih menunggu pekerjaan dari orang kayaknya agak takut,” ujarnya.
Ia pun menekankan pentingnya menciptakan peluang sendiri dibanding hanya bergantung pada tawaran pekerjaan.
“Harus memikirkan pekerjaan yang kita buat sendiri,” kata Baim.
Perjalanan kariernya yang terus berkembang dari sinetron hingga menjadi kreator digital, sutradara, dan produser menjadi bukti keberanian dalam menghadapi perubahan.
“Dari sinetron ke film, dari film ke YouTube, dari YouTube ke TikTok, sekarang jadi director, producer, itu perjalanan yang butuh keberanian,” ujarnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]