Sistem ini memicu pelepasan hormon yang mengatur respons "melawan atau lari" ketika menghadapi bahaya.
Aktivasi sistem ini juga mempercepat detak jantung dan secara sementara menurunkan aktivitas sistem imun, yang dapat membantu mengurangi peradangan terkait penyakit kronis.
Baca Juga:
Warga Parsoburan Berjibaku Padamkan Api, Disebut Damkar Pemkab Muncul Setelah Pemadaman Hampir Rampung
Perasaan yang muncul dalam situasi ini bukanlah kecemasan, melainkan kombinasi antara ketakutan dan kesenangan—mirip dengan sensasi saat menonton film horor, mengunjungi wahana rumah hantu, atau melakukan olahraga ekstrem.
Selain itu, sebuah penelitian di Denmark meneliti bagaimana pengalaman di rumah hantu memengaruhi respons imun tubuh.
Penelitian ini melibatkan 113 relawan dengan rata-rata usia 29 tahun yang diminta untuk memasuki rumah hantu di Vejle, Denmark.
Baca Juga:
Sarjana Pertanian di Malang Tanam Ganja di Loteng Rumah Pakai Pollybag, 62 Pohon Disita
Di dalamnya, mereka menghadapi berbagai kejutan dari badut-badut seram dan hantu yang mengejar serta menakut-nakuti mereka dengan properti tambahan.
Para peneliti mengukur detak jantung peserta serta mengambil tiga sampel darah—sebelum memasuki rumah hantu, setelah keluar, dan tiga hari kemudian.
Sampel ini dianalisis untuk menilai penanda inflamasi (hs-CRP) dan jumlah sel imun (leukosit).