Namun, kehidupannya hancur ketika dewan direksi asal Amerika Serikat memutuskan melakukan pemangkasan besar-besaran.
Ketika Man-soo mencoba memprotes keputusan itu, satu kalimat dingin yang ia dengar membuatnya terhenti: “Nggak ada pilihan lain.” Kalimat itu menghantam harga dirinya.
Baca Juga:
James Cameron Cetak Sejarah, Empat Filmnya Tembus Pendapatan Miliaran Dolar
Merasa terinjak dan tidak berdaya, Man-soo terobsesi ingin mendapatkan kembali posisinya.
Namun alih-alih mencari cara yang sehat, ia justru memilih jalan gila menyingkirkan para pesaingnya satu per satu dengan tangannya sendiri.
Setiap kali melakukannya, ia kembali membenarkan diri dengan ucapan yang sama: “Aku nggak punya pilihan lain.”
Baca Juga:
Suka Duka Tawa Angkat Luka Keluarga dan Humor di Dunia Komika
Lebih dari Sekadar Thriller
Film ini bukan sekadar kisah pembunuhan berdarah dingin. Park Chan-wook memadukan thriller psikologis dengan kritik tajam terhadap sistem sosial modern.
Ia menunjukkan bagaimana kalimat “nggak ada pilihan lain” sering dipakai sebagai tameng oleh dua sisi dunia: para eksekutif yang memecat demi efisiensi, dan orang kecil yang membalas dengan kekerasan.