Ada pula adegan jasad manusia digulung menyerupai bola, yang terasa absurd tapi menggambarkan brutalnya perjuangan kelas bawah di dunia yang tak adil.
Ironis, tragis, sekaligus lucu dalam cara yang hanya Park Chan-wook bisa lakukan.
Baca Juga:
James Cameron Cetak Sejarah, Empat Filmnya Tembus Pendapatan Miliaran Dolar
Momen paling berkesan terjadi saat Man-soo berdiri di tepi tebing.
Kamera menampilkan dua sisi wajahnya dalam split screen, menegaskan perpecahan batin antara pekerja patuh dan pembunuh yang haus pembenaran.
Setiap transisi dan pergerakan kamera terasa penuh makna visual dan emosional.
Baca Juga:
Suka Duka Tawa Angkat Luka Keluarga dan Humor di Dunia Komika
Refleksi Moral yang Menggetarkan
Akhir film menutup kisah dengan ironi pahit: manusia sering kali rela kehilangan kemanusiaannya demi materi.
Park Chan-wook mengajak penonton menatap cermin seberapa sering kita bersembunyi di balik alasan “nggak ada pilihan lain” untuk membenarkan pilihan salah?