WAHANANEWS.CO, Jakarta - Satu sentuhan kecil di layar ponsel sering kali berubah menjadi jebakan waktu berjam-jam, saat niat awal yang sederhana seperti mengecek jadwal justru terseret arus konten tanpa henti yang dirancang untuk memancing emosi dan respons instan.
Fenomena ini mendorong Blibli menghadirkan eksperimen sosial bertajuk “Jeda 10 Detik”, yang menguji bagaimana masyarakat bereaksi terhadap konten digital yang menggugah rasa penasaran dan kecenderungan impulsif.
Baca Juga:
Asmara Berujung Petaka, Pria di Surabaya Didakwa Tipu Pacar hingga Rp 42 Juta
Dalam uji coba melalui situs interaktif, lebih dari 158.000 warga Indonesia dilibatkan untuk mengukur refleks mereka ketika dihadapkan pada informasi yang sengaja dibuat provokatif dan menggoda secara emosional.
"Konten clickbait masih jadi pemenangnya," ujar Head of PR Blibli Nazrya Octora dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Ia menambahkan, rasa penasaran, keingintahuan berlebih, hingga fenomena FOMO menjadi pemicu utama seseorang terjebak dalam konsumsi konten digital yang tidak terkendali.
Baca Juga:
Sultan HB X Murka Kasus Daycare Yogyakarta, Perintahkan Tutup Lembaga Ilegal
Hasil eksperimen memperlihatkan bahwa judul-judul bombastis dengan janji yang tidak masuk akal, seperti klaim penurunan berat badan drastis hanya dengan teknik sederhana, tetap menjadi magnet kuat yang mendorong pengguna untuk segera mengklik tanpa berpikir panjang.
Kelompok usia lanjut atau baby boomers justru tercatat sebagai segmen yang paling rentan terhadap jebakan clickbait, menunjukkan adanya kesenjangan literasi digital di tengah derasnya arus informasi.
"Kelompok usia 65 tahun ini paling cepat bereaksi terhadap banner semacam itu," kata Nazrya.
Temuan lain menunjukkan bahwa perilaku impulsif ini tersebar merata di kota-kota besar, dengan tingkat respons paling tinggi tercatat di Jakarta, disusul Depok dan Surakarta.
Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kecenderungan bereaksi terhadap konten digital, yang menandakan bahwa faktor psikologis lebih dominan dibanding demografis gender.
Secara waktu, penurunan daya kritis paling terasa pada jam-jam sibuk perkantoran, khususnya pukul 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00, ketika konsentrasi cenderung melemah.
"Setiap dua jam saat jam kerja biasanya fokus mulai turun," ujar Nazrya.
Menariknya, kecenderungan ini tidak berkurang saat hari libur atau periode panjang perayaan, yang menunjukkan bahwa batas antara waktu kerja dan istirahat semakin kabur dalam kehidupan digital.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, eksperimen ini menekankan pentingnya jeda singkat sebelum bereaksi terhadap konten, sebagai cara sederhana untuk mengembalikan kendali diri.
Aktivitas ringan seperti memijat telinga atau bermain gim sederhana yang disediakan dalam platform eksperimen dirancang untuk meredam stres sekaligus menenangkan pikiran.
Menurut psikolog Irma Gustiana, jeda singkat tersebut membantu mengalihkan energi impulsif menjadi respons yang lebih sadar secara kognitif.
"Ketenangan itu bukan soal durasi, tapi seberapa terasa dampaknya dalam diri," jelas Irma.
Hasilnya menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh peserta merasa lebih positif dan objektif setelah melakukan jeda selama 10 detik sebelum merespons informasi digital.
Perubahan ini menegaskan bahwa kejernihan berpikir dapat dibangun melalui kebiasaan kecil, yang berperan besar dalam mencegah seseorang terjebak dalam manipulasi informasi.
"Budaya jeda ini diharapkan membuat kita tetap menjadi pengendali atas emosi sendiri," tutup Nazrya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]