Sekitar pukul 23.00, suasana sunyi malam tiba-tiba terusik oleh suara samar yang menyerupai desahan dari arah tenda pasangan itu.
“Temen gue bilang, ‘Eh lu denger suara enggak?’ Gue iya, tapi enggak mau ngomong. Itu bukan suara horor, tapi suara desahan,” kenang Hilya.
Baca Juga:
Wakapolda Jambi Tinjau Kesiapan SAR Perairan Ditpolairud, Pastikan Peralatan Siap Operasi
Tak ada yang berani memastikan apa yang sebenarnya terjadi malam itu hingga esok paginya tenda pasangan itu tetap tertutup rapat.
Saat Hilya memanggil dan menggoyang tenda, tak ada respons, hingga akhirnya ia membuka tenda dan mendapati pemandangan yang membuatnya syok berat.
“Awalnya gue kira cuma satu orang di sleeping bag, tapi ternyata dua. Pas gue buka, mereka kaku, sudah membiru. Gue cuma bisa bengong,” tuturnya.
Baca Juga:
Jeni Rahmadial Fitri Jadi Tersangka, Gelar Puteri Indonesia Riau 2024 Dicabut
Petugas ranger dan relawan segera dihubungi, lalu proses evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian sebelum jenazah dibawa turun untuk autopsi lebih lanjut.
Dari hasil pemeriksaan, dokter memastikan bahwa kematian keduanya bukan akibat kekerasan, melainkan akibat kejang otot fatal saat berhubungan intim di suhu dingin yang membuat tubuh mereka kehilangan daya.
Secara medis, fenomena gancet atau penis captivus terjadi karena kontraksi otot vagina yang menjepit penis sehingga tidak dapat dilepaskan.