WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dari ruang pelatihan pertanian, Dr Abdul Roni Angkat, STP, MSi melangkah ke gelanggang kebijakan yang menentukan masa depan tebu, kopi, kakao, karet, teh, lada, pala, vanili, cengkeh, hingga jambu mete Indonesia.
Putra Dairi kelahiran Medan pada 27 Juli 1978 itu bukan sosok yang muncul tiba-tiba di jajaran Kementerian Pertanian RI.
Baca Juga:
Mahfud: Jika Tahu Siapa yang Bayar Demo, Sebutkan ke Publik
Ia tumbuh dari jalur pendidikan, pelatihan, birokrasi, riset terapan, dan kerja teknis yang panjang sebelum namanya dikenal sebagai Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan di Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI.
Latar akademiknya kuat karena Abdul Roni menempuh pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor mulai dari Sarjana Teknik Pertanian pada 2001, Magister Teknologi Pertanian pada 2013, hingga Doktor Ilmu Keteknikan Pertanian pada 2018.
Bekal keteknikan pertanian itulah yang membuat profil Abdul Roni lekat dengan isu modernisasi, efisiensi budidaya, penguatan teknologi produksi, dan digitalisasi di sektor pertanian.
Baca Juga:
Halte Tebet Eco Park Hancur Ditabrak Truk, Pengemudi Masih Diburu Polisi
Kariernya dimulai sebagai Widyaiswara di Balai Pelatihan Pertanian Jambi sejak 2009 hingga 2015.
Ia kemudian menjadi Widyaiswara Ahli Muda di lembaga yang sama hingga 2018.
Dari jalur pengajar dan pelatih aparatur pertanian, Abdul Roni masuk ke ruang tata kelola sumber daya manusia saat menjabat Kepala Subbidang Kerja Sama dan Tugas Belajar hingga 2020.
Setelah itu, ia dipercaya memimpin Balai Pelatihan Pertanian Lampung hingga 2024.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Abdul Roni bukan hanya memahami komoditas dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi pembinaan petani, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas aparatur, dan penyebaran pengetahuan teknis ke lapangan.
Fase berikutnya datang ketika ia dipercaya memimpin Direktorat Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, sejak Jumat (29/11/2024) hingga Selasa (08/07/2025).
Di posisi itu, ia berada dekat dengan agenda pengembangan teknologi produksi serealia dan modernisasi pertanian pangan.
Setelah itu, Abdul Roni mendapat amanah di Direktorat Tanaman Semusim dan Tahunan yang memiliki medan kerja luas, rumit, dan menyentuh banyak komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi.
Tantangan di direktorat ini tidak kecil karena tanaman semusim dan tahunan berkaitan langsung dengan produktivitas kebun rakyat, ketersediaan benih unggul, perlindungan tanaman, hilirisasi, daya saing ekspor, dan kesejahteraan pekebun.
Komoditas seperti tebu, kopi, kakao, karet, teh, lada, pala, cengkeh, vanili, dan jambu mete tidak cukup hanya dikejar dari sisi luas tanam.
Komoditas-komoditas itu juga menuntut pembenahan produktivitas, kualitas bahan baku, kepastian pasar, kesiapan industri olahan, serta kemampuan petani masuk ke rantai nilai yang lebih menguntungkan.
Salah satu pekerjaan berat berada pada komoditas tebu karena sektor ini terhubung langsung dengan agenda peningkatan produksi gula nasional.
Tebu membutuhkan pembenahan dari hulu hingga hilir, mulai dari benih, bongkar ratoon, pola tanam, mekanisasi, efisiensi panen, hingga sinkronisasi dengan pabrik gula.
Di sisi lain, kopi dan kakao menghadapi tantangan berbeda karena kedua komoditas ini sangat sensitif terhadap perubahan iklim, kualitas pascapanen, standar mutu, dan permintaan pasar global.
BMKG bersama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia pernah menyoroti bahwa fenomena El Nino dan La Nina dapat menekan hasil panen kopi dan kakao secara signifikan sehingga adaptasi berbasis data iklim menjadi semakin penting.
Bagi direktorat yang menangani tanaman semusim dan tahunan, isu iklim bukan lagi sekadar gangguan musiman, melainkan faktor strategis yang dapat menentukan naik turunnya produksi dan mutu komoditas.
Tantangan lainnya adalah memastikan petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Hilirisasi menjadi kata kunci karena tebu, kopi, kakao, lada, pala, jambu mete, dan komoditas lain memiliki nilai ekonomi lebih besar ketika diolah menjadi produk turunan.
“Kementan memfokuskan hilirisasi pada tujuh komoditas strategis, yakni tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, dan pala,” jelas Roni, Kamis (02/10/2025).
Pernyataan itu menggambarkan arah besar bahwa pekerjaan di subsektor perkebunan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga bergerak ke penguatan nilai tambah.
Dalam konteks itu, profil Abdul Roni sebagai birokrat berlatar keteknikan pertanian menjadi relevan karena tantangan perkebunan hari ini membutuhkan pendekatan berbasis teknologi, data, efisiensi, dan inovasi.
Ia juga memiliki jejak karya yang sejalan dengan kebutuhan tersebut.
Pada 2019, Abdul Roni menerima Hak Cipta Sistem Rekomendasi Pemupukan Kelapa Sawit atau Precipalm dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Pada 2022, ia menerima Hak Cipta Sistem Informasi Manajemen dan Evaluasi Pasca Pelatihan atau SIMEPP.
Pada tahun yang sama, ia juga mencatatkan karya Optimalisasi Cabai atau Capsicum annuum L dengan Sistem Irigasi Berbasis IoT.
Jejak inovasi itu menunjukkan ketertarikannya pada penggunaan teknologi untuk membantu proses pengambilan keputusan di sektor pertanian.
Di tengah tuntutan tersebut, perubahan iklim membuat pengelolaan kebun harus lebih adaptif.
“Pengelolaan kebun yang adaptif menjadi langkah penting,” kata Roni.
Kalimat itu menjadi penting karena petani tanaman semusim dan tahunan kini berhadapan dengan cuaca yang makin sulit ditebak, risiko hama penyakit, keterbatasan air, dan kebutuhan konservasi tanah.
Kementerian Pertanian juga mendorong penggunaan benih unggul, konservasi tanah dan air, pengelolaan kebun berkelanjutan, hingga pendampingan pekebun untuk mengantisipasi dampak iklim.
Artinya, tantangan Abdul Roni bukan hanya soal memimpin direktorat, tetapi juga memastikan kebijakan teknis benar-benar turun sampai ke kebun rakyat.
Kopi harus dijaga mutunya sejak budidaya hingga pascapanen.
Kakao harus diperkuat produktivitas dan kualitas bijinya agar mampu bersaing di pasar olahan.
Tebu harus ditingkatkan produktivitasnya agar agenda penguatan gula nasional tidak berhenti sebagai target di atas kertas.
Karet harus dijaga daya saingnya di tengah tekanan harga dan kebutuhan pembaruan tanaman.
Rempah seperti lada, pala, cengkeh, dan vanili membutuhkan penguatan mutu, kontinuitas pasokan, dan akses pasar yang lebih stabil.
Jambu mete dan teh juga memerlukan perhatian karena keduanya memiliki potensi ekonomi tetapi sering berhadapan dengan persoalan produktivitas, regenerasi kebun, dan nilai tambah.
Dengan latar sebagai widyaiswara, kepala balai pelatihan, pejabat struktural, direktur serealia, hingga pemegang amanah di tanaman semusim dan tahunan, Abdul Roni membawa kombinasi pengalaman pendidikan, birokrasi, dan teknis.
Kombinasi itu menjadi modal penting karena sektor perkebunan tidak cukup dikelola dengan pendekatan administratif semata.
Sektor ini membutuhkan pemimpin teknis yang memahami petani, data, teknologi, rantai pasok, dan dinamika pasar.
Bagi banyak pekebun, kebijakan di tingkat pusat akan terasa nyata jika menghasilkan benih yang lebih baik, pendampingan yang lebih dekat, panen yang lebih stabil, harga yang lebih layak, dan akses hilirisasi yang lebih terbuka.
Di titik itulah profil Dr Abdul Roni Angkat menjadi menarik untuk dibaca, bukan sekadar karena jabatan yang melekat padanya, tetapi karena tantangan besar yang kini berada di hadapan putra Dairi tersebut.
[Redaktur: Sandy]