WAHANANEWS.CO - Gempa bumi terjadi setiap hari di berbagai belahan dunia, namun sebagian besar berkekuatan kecil sehingga tidak dirasakan manusia. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pemahaman tentang penyebab gempa pun berubah dari mitos menjadi penjelasan ilmiah yang terus berkembang hingga saat ini.
Pada masa lampau, ketika ilmu kebumian belum berkembang, banyak peradaban meyakini gempa disebabkan makhluk raksasa yang hidup di bawah permukaan Bumi, seperti ular, kura-kura, ikan lele, hingga laba-laba.
Baca Juga:
Jahe Hangat Dipercaya Redakan Demam, Begini Fakta Ilmiahnya
Masyarakat kuno di Nusantara, khususnya di Jawa dan Bali, mempercayai gempa terjadi akibat pergerakan kura-kura raksasa Bedawangnala atau naga yang menopang Bumi, sedangkan di India kuno, gempa diyakini muncul ketika gajah atau ular yang menyangga Bumi bergeser dari posisinya.
Perkembangan ilmu pengetahuan kemudian menghadirkan penjelasan yang lebih rasional melalui filsuf Yunani, Aristoteles, yang dikenal sebagai tokoh pertama yang mencoba menjelaskan fenomena gempa berdasarkan gejala alam.
Aristoteles yang hidup pada 384-322 sebelum Masehi berpendapat bahwa angin yang terperangkap di dalam Bumi berusaha keluar ke permukaan sehingga menimbulkan guncangan atau getaran.
Baca Juga:
OJK Catat Kredit Macet Pinjol 4,62 Persen, Pengamat Sebut Jadi Alarm Dini
Dalam karya berjudul Meteorologica, Aristoteles mengelompokkan gempa bumi bersama petir, badai, dan komet sebagai bagian dari fenomena atmosfer.
Mengutip buku The Founders of Seismology karya Charles Davison serta laman projects.eri.ucsb.edu, kajian ilmiah mengenai gempa mulai berkembang pesat setelah rangkaian gempa besar mengguncang Inggris pada 1750.
Lima tahun kemudian, tepatnya pada Minggu (1/11/1755), gempa dahsyat disertai tsunami melanda Lisbon, Portugal, menewaskan sekitar 70 ribu orang dan menghancurkan sebagian besar kota ketika banyak warga sedang berada di gereja.
Peristiwa tersebut menjadi titik awal lahirnya era modern seismologi karena mendorong para ilmuwan mulai meneliti penyebab, lokasi, waktu, hingga dampak gempa bumi secara sistematis.
Sebelum bencana Lisbon, sebagian besar cendekiawan masih mengandalkan teori Aristoteles dan pemikir klasik lainnya, namun setelah itu pendekatan ilmiah berbasis observasi mulai mendominasi penelitian mengenai gempa.
Penelitian modern kemudian dipelopori sejumlah ilmuwan, di antaranya John Michell dari Inggris dan Elie Bertrand dari Swiss yang melakukan pengamatan terhadap waktu, lokasi, serta dampak fisik gempa bumi.
Seiring berkembangnya komunikasi global, data gempa dari berbagai negara mulai dikumpulkan dan dibandingkan untuk memahami karakteristik gempa secara lebih menyeluruh.
Setelah gempa besar di Chile pada 1822, Maria Graham melaporkan adanya perubahan signifikan pada garis pantai yang kemudian diperkuat melalui pengamatan Robert FitzRoy bersama Charles Darwin setelah gempa Chile tahun 1835.
Di Amerika Serikat, Grove Karl Gilbert yang meneliti gempa Owens Valley, California, pada 1872 menyimpulkan bahwa patahan merupakan penyebab utama gempa, bukan sekadar dampak dari ledakan bawah tanah sebagaimana diyakini sebelumnya.
Memasuki akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Jepang menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu seismologi dengan hadirnya Seikei Sekiya sebagai profesor seismologi pertama yang melakukan analisis kuantitatif terhadap rekaman gempa.
Ilmuwan Jepang lainnya, Fusakichi Omori, juga memberikan kontribusi besar melalui penelitiannya mengenai pola penurunan aktivitas gempa susulan setelah gempa besar, yang hingga kini masih dikenal melalui Hukum Omori.
Memasuki abad ke-20, penelitian mengenai gempa bumi berkembang sangat pesat dengan kontribusi para ilmuwan dari berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Rusia, Kanada, Meksiko, China, Amerika Tengah dan Selatan, Selandia Baru, hingga Australia.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]