Jabatan itu rupanya tidak menyurutkan semangat Hassanike
untuk turun ke jalanan dan menyuarakan hak perempuan lewat karya-karyanya ke
ruang publik.
Atas aksinya itu, Shamsia Hassani menerima pujian dari dunia
internasional dan dinobatkan sebagai perintis generasi baru wanita Afghanistan.
Baca Juga:
Eros Djarot: Budayawan Punya Tanggung Jawab Besar, Hindari Perilaku Ngaco!
Dalam sebuah wawancara pada 2013, Hassani mengungkapkan
alasannya membawa perempuan ke dalam sebagian besar karya-karyanya.
"Di masa lalu, perempuan dikeluarkan dari masyarakat
dan menyuruh mereka hanya tinggal di rumah serta melupakan perempuan sebagai
bagian dari masyarakat. Sekarang, saya ingin menggunakan lukisan saya untuk
mengingatkan kembali orang-orang tentang perempuan," ujar Shamsia Hassani.
Shamsia Hassani pun mencurahkan itu dalam karya seninya yang
gelap berjudul Death to Darkness and Nightmare.
Baca Juga:
Dana Apresiasi Kemendikbudristek untuk Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
Lukisan itu menggambarkan kondisi perempuan di Afghanistan
yang saat ini diselimuti kegelapan. Para wanita dalam lukisannya berpakaian
biru, di belakangnya ada banyak sosok berpakaian hitam membawa senjata api
laras panjang.
Hingga kini, situasi keamanan di Afghanistan masih
mengkhawatirkan. Namun Taliban menjanjikan tetap membolehkan kaum perempuan di
Afghanistan menempuh pendidikan hingga universitas setelah kembali berkuasa di
negara itu.
"(Perempuan) boleh mendapatkan pendidikan dari tingkat
taman kanak-kanak hingga tingkat tinggi, artinya universitas. Kami sudah
menyampaikan kebijakan ini dalam konferensi internasional di Moskow (Rusia) dan
dalam konferensi di di sini di Doha," kata Juru Bicara Biro Politik
Taliban, Suhail Shaheen, di Doha, Qatar, seperti dilansir AFP, Rabu (18/8).