Sumitro tetap bersikap terbuka dan merdeka, dia merasa bebas mengkritik kebijakan pembangunan Soeharto, bahkan sampai menerima H.R. Darsono yang tak lain lawan politik Soeharto.
Salah satu kritik Sumitro yang membuat merah telinga Soeharto adalah sinyalemen mengenai kebocoran 30 persen dana pembangunan.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Lantik Putra Dairi Junimart Girsang Sebagai Dubes RI Untuk Italia
Padahal masa tiga tahun terakhir menjelang jatuhnya Soeharto merupakan saat kritis, yang ditandai semakin sukarnya Soeharto menerima kritik.
Bila Sumitro mengkritik maka Titiek Soeharto akan datang menyampaikan pesan Pak Harto. Namun pesan dari Titiek tak pernah digubris Sumitro.
5. Prabowo-Titiek Berpisah
Baca Juga:
Prabowo Puji Timnas Usai Gilas Bahrain 1-0
Puncaknya adalah peristiwa lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998. Cendana marah karena menganggap Prabowo membiarkan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR.
Mereka curiga bahwa itu disengaja sebagai bagian dari konspirasi untuk menjatuhkan Soeharto.
Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek), dituliskan dalam buku itu marah-marah kepada Prabowo.