“binatang itu dia punya teretori, kedua ada komandan dalam kelompoknya ada pemimpin jantan, dan kalau sudah tua itu harus berbagi. Ada jantan yang kuat, tetapi sudah tidak produktif. Kita ambil contoh rusa, rusa itu bisa membuai 10-30 betina dalam rombongannya.
“Jadi apa yang harus dilakukan?, tanya Japto.
Baca Juga:
Akhiri Kesalahpahaman, Keakraban Japto-Hercules Satukan Pemuda Pancasila dan GRIB
“Nah, tugas orang kehutanan itu adalah survei di hutan hutan lihat binatang mana yang tidak berkembang” kata Japto
Ia menjelaskan, “dalam istilah konservasi, setiap tahun itu dia harus bertambah 70 persen dari jumlah populasi betina yang produktif, contoh jika ada 100 betina yang produktif, populasinya harus bertambah 70, jika dibawah itu berarti ada jantan yang tidak produktif, tetapi dia tidak kasih kesempatan jantan lain untuk bikin anak,” kata Japto.
“Jadi itulah yang diburu, yang tua, yang tidak produktif, atau yang cabangnya banyak,” lanjutnya.
Baca Juga:
Resmikan MPP di Medan, Japto Soelistyo Sebut Sumut Jadi Role Model Pemuda Pancasila
Pada prinsipnya sesuai dengan ketentuan perburuan Japto menjelasnya ada dua prinsip olahraga perburuan.
“Pemburu itu seorang konservasionis, bukan pemburu daging”. Kata Japto
“Kedua, tidak boleh berburu memakai anjing, tetapi dengan anjing boleh, conotoh berburu babi hutan, anjing hanya mengusir, babinya tetap kita tembak, karena ada kejadian binatang itu gak mati, hanya luka jadi ngamuk di kampung,” kata Japto.