WAHANANEWS.CO, Jakarta - Lubang raksasa akibat longsor di Jalan Buter–Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, kini melebar drastis hingga melampaui 30.000 meter persegi dan berubah menjadi ancaman serius bagi jalan raya, kebun warga, serta permukiman penduduk pada Sabtu (31/1/2026).
Selama sepekan terakhir, longsor terus bergerak memakan badan jalan dan menghilangkan sebagian areal perkebunan warga, sementara sejumlah rumah penduduk berada dalam ancaman langsung jika pergerakan tanah tidak segera dikendalikan.
Baca Juga:
Kapal Induk hingga F-35C Siap Berlaga, AS Perbesar Daya Gempur di Dekat Iran
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Aceh, Ikhlas, menjelaskan bahwa berdasarkan penelusuran awal pada tahun 2021, luas lubang di lokasi tersebut masih berada di angka sekitar 7.000 meter persegi.
“Kemudian pada tahun 2022, kami pantau sudah mencapai 28.000, sekarang sudah di atas 30.000 meter persegi,” kata Ikhlas, melansir Kompas, Minggu (1/2/2026).
Ia menyebutkan bahwa pada fase awal, lubang belum meluas hingga memakan badan jalan, berbeda dengan kondisi terkini yang sudah menghancurkan jalur Buter–Pondok Balik dan bahkan mendekati bagian tenggara yang sebelumnya berdekatan dengan tower sutet milik PLN sebelum akhirnya dipindahkan.
Baca Juga:
Lupa Punya Pesawat, Air India Kaget Saat Boeing 737 Tua Ditemukan di Bandara Kolkata
Dalam kajian geologi, wilayah tengah Aceh Tengah didominasi batuan vulkanik berupa tufa dan aliran piroklastik yang dikenal sebagai Formasi Geureudong, yang berkaitan dengan aktivitas Gunungapi Geureudong jutaan tahun silam.
Gunung Geureudong sendiri merupakan gunungapi tidak aktif di Kabupaten Bener Meriah yang usianya lebih tua dibandingkan Gunungapi Burni Telong, dengan status tipe B, sementara Burni Telong berstatus tipe A.
“Kenapa disebut Formasi Geureudong, karena berasal dari material piroklastik Geureudong yang akhirnya sampai ke Aceh Tengah,” ujar Ikhlas.
Ia menjelaskan bahwa material tersebut bersifat lepas dan mudah menyerap air, sehingga menjadi jenuh saat hujan turun dan menambah beban lereng, terutama pada daerah yang telah mengalami erosi berulang hingga membentuk lereng terjal dan tegak.
Hujan lebat yang dipicu siklon senyar pada akhir November 2025 lalu disebut Ikhlas sebagai faktor penting yang mempercepat ketidakstabilan lereng, sehingga longsoran tanah terus bergerak secara perlahan.
“Pemicunya hujan, getaran, gempa maupun air bawah tanah,” jelasnya.
Untuk mencegah longsor semakin meluas, Ikhlas menyarankan langkah penguatan baik secara struktural maupun non-struktural, mulai dari penguatan tebing, program penanaman, hingga perubahan jalur drainase.
Ia menambahkan bahwa di beberapa titik lubang raksasa tersebut terlihat area yang tidak terimbas longsor karena ditopang berbagai jenis tanaman yang berfungsi memperkuat struktur tanah.
“Tanah ini rentan terhadap air,” sebut Ikhlas lagi.
Ia mencontohkan wilayah Takengon yang memiliki banyak lokasi rawan terkikis dan rentan longsor saat hujan deras, sehingga pemerintah telah menetapkan zona kerentanan gerakan tanah untuk memetakan risiko.
Kawasan Ketol sendiri berada di wilayah dataran yang berbeda dengan beberapa lokasi lain di Aceh Tengah, namun longsor di area tersebut justru membentuk tebing berkelanjutan.
Fenomena serupa pernah terjadi saat Gempa Gayo Tahun 2013 yang menyebabkan sejumlah desa terdampak parah akibat karakter material tanah yang sama.
“Ketika gempa itu, malah Desa Bah dan Serempah itu jatuh atau hilang, karena material yang sama, mudah lepas dan penyangganya tidak kuat,” ungkap Ikhlas.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]