Hal ini membuat tukang yang merenovasi Wiwik akhirnya kesusahan. Mereka akhirnya terpaksa memasukkan material ke rumah Wiwik menggunakan gerobak.
Memang, jalan di depan rumah Masriah adalah satu-satunya akses yang cukup lebar bagi kendaraan roda empat untuk menuju ke rumah Wiwik yang berada di gang buntu.
Baca Juga:
PCA Sukodono Sidoarjo Studi Lingkungan ke Kampung Edukasi Sampah Sekardangan untuk Kesadaran Masyarakat
Tetangga Masriah di Desa Jogosatru, Sukodono, Sidoarjo, Lilik Samroatul menyebut, watak keras kepala Masriah sebenarnya sudah terlihat sejak ia masih duduk di bangku sekolah. Dia prihatin dengan perilaku Masriah yang tidak berubah padahal sudah sebulan dipenjara.
"Kata teman-temannya, Masriah sulit diajak berteman. Mintanya menang sendiri. Karakternya susah dipahami. Itu sudah terlihat sejak masih sekolah," ujar Lilik dikutip detik.com
Lilik mengaku heran, mengapa perilaku demikian bertahan hingga Masriah sudah dewasa, bahkan kini telah menjadi seorang ibu yang tidak hidup sendiri di lingkungan kampung.
Baca Juga:
Terkait Hak Guna Bangunan 656 Hektare di Laut Sidoarjo Polda Jatim Turun Tangan
"Anehnya sudah jadi emak-emak kok enggak berubah? Wong Jawa nak ngarani (orang Jawa bilang) angel tenan," ujar Lilik.
Sementara itu, Suwarsih (59), tetangga yang juga sekaligus kerabat Masriah itu mengaku tahu sendiri proses pemasangan dua batu besar di depan rumah Masriah.
Dia melihat sendiri bagaimana Masriah memerintahkan seseorang memasang kedua batu itu di depan garasi rumahnya, diduga untuk menghalangi proses renovasi rumah Wiwik.