“Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan tanpa menunggu tragedi terjadi,” kata Hetifah.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kepedulian sosial yang kuat di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Baca Juga:
Pemanfaatan AI di Sekolah Kini Diatur, Pemerintah Tekankan Kesiapan dan Usia Anak
“Kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan,” imbuh Hetifah.
Kematian YBS (10) yang diduga akibat bunuh diri dinilai sebagai tragedi kemanusiaan yang membuka luka mendalam soal ketimpangan sosial.
YBS merupakan siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada yang diduga mengalami keputusasaan akibat kondisi ekonomi keluarganya.
Baca Juga:
Nadiem Makarim Bantah Tuduhan Persekongkolan dan Penyalahgunaan Wewenang dalam Kasus Chromebook
Peristiwa itu bermula saat korban meminta uang untuk membeli buku dan pena dengan harga kurang dari Rp10.000, namun ibunya, MGT (47), menjawab bahwa mereka tidak memiliki uang.
Bagi keluarga tersebut, nominal Rp10.000 bukanlah jumlah kecil karena mereka tergolong masyarakat miskin.
MGT bekerja sebagai petani dan buruh serabutan serta berstatus janda yang menanggung nafkah lima orang anak.