“Pemerintah provinsi gagal, kabupaten juga gagal, ini orang mati karena miskin, bukan karena bencana,” ujarnya.
Melki meminta seluruh perangkat sosial, mulai dari RT dan RW, kembali diaktifkan dan berfungsi nyata untuk mendeteksi warga rentan.
Baca Juga:
Tak Ada Toleransi, Polwan Diduga Curi Uang, Kini Ditahan di Polda NTT
“Kalau ada yang miskin dan susah, urus,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak bisa dijadikan alasan pembiaran.
“Uang memang terbatas, tapi ada,” katanya.
Baca Juga:
Berpotensi Timbulkan Konsekuensi Hukum dan Administratif, Fraksi Golkar Serukan Walkout
Melki menutup pernyataannya dengan seruan moral yang keras kepada semua pihak.
“Kita semua mesti malu dengan kejadian ini, ini harus jadi pertobatan bersama dan harus menjadi yang terakhir,” pungkasnya.
Diketahui, YBR, anak berusia 10 tahun yang masih duduk di kelas IV sekolah dasar, ditemukan meninggal dunia dan diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri pada Kamis (29/1/2026).