"Jangan sampai terjadi plafon ambrol menimpa siswa karena keselamatannya juga harus diprioritaskan," jelasnya.
Ambrolnya plafon ruang kelas, kata dia, pernah terjadi di ruang kelas SD Jepang Pakis, beruntung tidak saat anak mengikuti proses belajar mengajar.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Sebut Sekolah Rakyat untuk Memutus Mata Rantai Kemiskinan
Ia berharap Pemerintah Daerah Kudus segera menindaklanjuti temuan dewan. Nantinya dewan juga akan mengundang pihak pemerintah melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kudus untuk berkoordinasi agar sekolah tersebut terbangun semuanya.
"Kami mengusulkan empat ruang kelas 9 tersebut dibangun semuanya karena perbaikan hanya satu atau dua ruang kelas, tentunya tidak menyelesaikan masalah. Ruang kelas lainnya dimungkinkan juga akan mengalami hal serupa," ungkapnya.
Hasil tinjauan di lapangan, kata dia, kondisi bangunannya merupakan bangunan lama sehingga ketinggian tidak sama dengan bangunan kelas lainnya. Sedangkan kayu pada atap bangunan banyak yang lapuk.
Baca Juga:
12 Tahun Bersekolah tapi Tak Bisa Membaca, Aleysha Ortiz Gugat Sekolahnya
Kabid Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus Anggun Nugraha mengungkapkan bahwa empat ruang kelas dengan kondisi atap rusak di SMP Negeri 1 Mejobo sudah diusulkan dan masuk dalam rencana rehab tahun 2024.
Sedangkan untuk perbaikan sekolah tahun 2023 ada 10 sekolah dan sudah tanda tangan kontrak dengan penyedia jasa.
Di antaranya ada SMP 1 Mejobo, SMP 1 Bae, SD 4 Golantepus, SD 4 Jepang, SD 5 Temulus, SD 1 Mlatinorowito, SD 2 Bakalankrapyak, SD 1 Getaspejaten, SD 1 Gulang, SD 4 Rahtawu, dan SD 4 Dersalam.