“Pariwisata adalah ekspor yang datang ke Indonesia. Wisatawan membawa devisa tanpa kita harus mengirim barang ke luar negeri. Karena itu, pemerintah perlu menjadikan sektor ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif,” katanya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Amin mendorong pemerintah terus mengembangkan destinasi wisata prioritas nasional, seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Wakatobi.
Baca Juga:
Misbakhun: Nilai Transfer ke Daerah 2027 Masih Menunggu Pembahasan RAPBN
Menurutnya, pengembangan kawasan wisata harus dibarengi dengan peningkatan konektivitas transportasi, kebersihan lingkungan, keamanan, kualitas pelayanan, serta promosi yang lebih masif di tingkat internasional agar mampu menarik lebih banyak wisatawan asing.
Selain sektor pariwisata, Amin juga melihat pelemahan rupiah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia.
Berbagai komoditas unggulan, mulai dari kelapa sawit, hasil perikanan, kopi, kakao, furnitur, tekstil, alas kaki, hingga produk industri kreatif, dinilai memiliki peluang lebih besar menembus pasar global apabila kualitas produk dan nilai tambahnya terus ditingkatkan.
Baca Juga:
Rupiah Tembus Rp18.000/US$, Apindo Sebut Pengusaha Efisiensi & Stop Buka Loker
“Hilirisasi harus terus dipercepat agar Indonesia tidak lagi hanya menjual bahan mentah. Semakin tinggi nilai tambah produk yang kita ekspor, semakin besar devisa yang masuk dan semakin kuat fondasi ekonomi nasional,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai pemerintah juga perlu mengurangi ketergantungan terhadap barang impor, khususnya bahan baku strategis dan komponen industri.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus mengurangi dampak gejolak nilai tukar terhadap biaya produksi di dalam negeri.