WahanaNews.co, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap menunjukkan kinerja yang solid sebagai instrumen peredam gejolak (shock absorber) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Hal tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Menurut Purbaya, meskipun volatilitas pasar keuangan dan harga energi global meningkat, fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat.
Baca Juga:
Pendapatan Negara Tumbuh Positif, PPN-PPnBM Melonjak 97 Persen hingga Februari 2026
Ia menjelaskan, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) hingga Maret 2026 tercatat sebesar 68 dollar AS per barel. Angka tersebut masih berada di bawah asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dollar AS per barel, meskipun harga minyak mentah Brent sempat menembus 100 dollar AS per barel.
“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026,” ujar Purbaya.
Pemerintah, lanjut dia, tetap siap melakukan penyesuaian apabila tekanan global meningkat, namun posisi awal APBN dinilai cukup kuat sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.
Baca Juga:
PAN Dukung Prabowo, Setuju Gaji Menteri Dipotong dan WFH Diterapkan
Dari sisi sektor riil, kinerja ekonomi domestik juga menunjukkan tren positif. Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia pada Februari 2026 mencapai 53,8, yang merupakan level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Capaian ini bahkan melampaui sejumlah negara besar seperti China, Amerika Serikat, dan Australia.
“Ekonomi kita sedang dalam fase ekspansi yang kuat,” kata dia.
Indikator konsumsi masyarakat turut menunjukkan penguatan. Mandiri Spending Index tercatat meningkat ke level 360,7 persen pada Februari 2026. Selain itu, penjualan mobil juga tumbuh dua digit, yakni sebesar 12 persen.
Purbaya juga menepis anggapan bahwa daya beli masyarakat melemah. Ia merujuk pada Indeks Keyakinan Konsumen yang masih berada di atas level 100, yang mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Sementara itu, tingkat inflasi yang mencapai 4,76 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari 2026 disebut dipengaruhi faktor temporer, yakni efek basis rendah akibat program diskon listrik pada tahun sebelumnya. Tanpa faktor tersebut, inflasi diperkirakan berada di level 2,59 persen, masih dalam kisaran target pemerintah.
Menkeu juga menyoroti kuatnya koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter, termasuk dengan Bank Indonesia. Salah satunya melalui penempatan kas pemerintah sebesar Rp200 triliun yang membantu menjaga likuiditas perbankan. Dampaknya, suku bunga kredit tercatat turun menjadi 8,8 persen pada Januari 2026.
Dari sisi realisasi APBN, hingga akhir Februari 2026 pendapatan negara tercatat sebesar Rp358 triliun atau 11,4 persen dari target, tumbuh 12,8 persen secara tahunan. Penerimaan pajak bahkan meningkat signifikan sebesar 30,4 persen.
Di sisi belanja, realisasi mencapai Rp493,8 triliun atau 12,8 persen dari pagu, melonjak 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah mengakselerasi belanja sejak awal tahun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), yang dinilai masih dalam batas aman.
“Secara keseluruhan, kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, serta defisit yang tetap terkendali menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Purbaya.
[Redaktur: Jupriadi]