WahanaNews.co, Jakarta - Pemerintah menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada dalam posisi yang kuat di tengah dinamika global. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam media briefing di Jakarta pada Jumat (24/4).
Menkeu menekankan bahwa pengelolaan fiskal yang disiplin serta reformasi kebijakan yang telah dilakukan sebelum tekanan global terjadi menjadi kunci utama ketahanan ekonomi Indonesia saat ini. Menurutnya, berbagai lembaga internasional dan investor kini tidak lagi mempertanyakan fundamental fiskal Indonesia, termasuk terkait defisit anggaran. Hal ini mencerminkan kredibilitas kebijakan fiskal yang terjaga.
Baca Juga:
Ini Tiga Pesan Utama Menkeu Purbaya saat Lantik Lima Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Kemenkeu
“Saya ingin menegaskan lagi, kondisi APBN baik, malah orang-orang sana pada kagum tuh,” kata Menkeu.
Dari sisi likuiditas, Menkeu memastikan posisi kas negara tetap aman dan dikelola secara optimal. Pemerintah juga melakukan strategi pengelolaan kas yang proaktif, antara lain dengan menempatkan dana di perbankan untuk mendorong likuiditas dan mendukung aktivitas ekonomi tanpa menambah beban anggaran.
“Cash management kita sudah baik. Yang Rp300 triliun kita masukin ke perbankan supaya ada tambahan likuiditas, supaya ekonomi bisa berjalan. Jadi nggak usah takut dengan APBN, pemerintah masih cukup dan uang kita masih banyak,” ujar Menkeu.
Baca Juga:
Menkeu Purbaya Perkuat Kepercayaan Global terhadap Fundamental Ekonomi Indonesia di Washington DC
Lebih lanjut, Menkeu menjelaskan bahwa pemerintah fokus untuk melakukan reformasi struktural, mulai dari perbaikan sistem perpajakan, bea cukai, hingga efisiensi belanja. Di sisi lain, kebijakan fiskal juga diarahkan untuk menjaga stabilitas dan mendukung sektor riil. Pemerintah memastikan subsidi diberikan secara tepat sasaran, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan, sehingga tetap menjaga keseimbangan antara perlindungan sosial dan kesehatan fiskal.
“Yang kita subsidi adalah yang memang betul-betul membutuhkan. Untuk orang-orang yang ekonominya kuat, tidak kita subsidi dan sudah kita umumkan akan dinaikkan. Kita manage anggaran dengan benar. Bukan hanya jual-jualan subsidi tanpa batas, tapi kita batasi untuk orang-orang yang memang benar-benar tidak mampu,” ujar Menkeu.
Dalam menghadapi tekanan global, Menkeu menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Kontribusi permintaan domestik yang mencapai sekitar 90 persen terhadap perekonomian menjadi penopang utama pertumbuhan. Pemerintah juga terus memonitor perkembangan ekonomi dan siap mengambil langkah stimulus apabila diperlukan. Untuk triwulan II, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap terjaga dan bahkan berpotensi meningkat.