Menurut dia, ke depan Indonesia membutuhkan sistem kelistrikan yang bukan hanya kuat, tetapi juga adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem dan dinamika kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.
“Transformasi sektor energi tidak cukup hanya membangun pembangkit. Harus ada penguatan transmisi, digitalisasi pengawasan jaringan, predictive maintenance, hingga sistem proteksi berlapis agar gangguan tidak meluas,” ujarnya.
Baca Juga:
ALPERKLINAS: Inovasi PLN EPI dalam Pengembangan Sorgum Jadi Terobosan Strategis Menuju NZE
Tohom yang juga Ketua Badan Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (BPPH) Pemuda Pancasila Pusat ini mengatakan masyarakat perlu memberi ruang kepada PLN dan aparat untuk menyelesaikan investigasi secara menyeluruh tanpa membangun spekulasi yang dapat memperkeruh situasi.
Ia mengingatkan bahwa stabilitas pasokan listrik memiliki kaitan langsung dengan aktivitas ekonomi, pelayanan publik, industri, hingga keamanan nasional.
“Listrik adalah urat nadi pembangunan. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan adalah solidaritas nasional, bukan saling menyalahkan. Kita harus mendukung seluruh upaya pemulihan agar aktivitas masyarakat kembali normal dan investasi tetap terjaga,” ucapnya.
Baca Juga:
Emisi Turun 41,6 Ton CO2e, ALPERKLINAS: PLN Indonesia Power Konsisten Bangun Budaya Rendah Karbon
Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri menerjunkan tim untuk menyelidiki penyebab blackout di sejumlah wilayah Sumatera.
Dari hasil pemeriksaan awal di titik putus sambungan Sutet 175-176 di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muara Jambi, belum ditemukan indikasi unsur kesengajaan manusia dalam putusnya konduktor transmisi tersebut.
PLN juga menyampaikan indikasi awal gangguan dipicu kondisi cuaca buruk yang memengaruhi sistem transmisi 275 kV Muaro Bungo–Sungai Rumbai dan memicu gangguan berantai pada sistem kelistrikan Sumatera.