WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gejolak Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz membuka peluang baru bagi Indonesia, dengan sejumlah negara mulai memburu pasokan pupuk urea.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan terdapat tiga negara yang telah mengajukan permintaan impor pupuk urea dari Indonesia di tengah terganggunya jalur distribusi global.
Baca Juga:
Iran Tutup Selat Hormuz, Trump Ultimatum Cepat Buka atau Jadi Neraka!
Permintaan tersebut muncul sebagai dampak dari penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dan komoditas dunia.
Pernyataan itu disampaikan Amran saat meninjau Gudang Bulog Panaikang bersama Wakil Direktur Utama Perum Bulog Marga Taufiq di Makassar pada Minggu (5/4/2026).
Ia menilai kondisi ini mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu produsen pupuk urea strategis di tingkat global.
Baca Juga:
Investor Dubai Siap Tanam Modal Bangun Pabrik Pupuk Urea di Jawa Tengah
“Kita akan ekspor urea karena kita produsen urea, beberapa negara sudah meminta. Ada tiga negara meminta,” ujar Amran.
Meski demikian, Amran belum mengungkapkan identitas negara yang mengajukan permintaan karena proses negosiasi masih berlangsung.
Pemerintah saat ini tengah mengupayakan kesepakatan harga terbaik agar ekspor memberikan keuntungan maksimal bagi Indonesia.
“Ini masih nego supaya harga kita lebih bagus,” katanya.
Amran menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi kondisi global sejak awal tahun dengan mengamankan pasokan bahan baku pupuk.
Langkah tersebut diambil untuk memastikan ketersediaan pupuk dalam negeri tetap stabil meskipun terjadi gangguan rantai pasok global.
Ia menyebut kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga ketahanan sektor pertanian nasional.
Selain itu, Amran memastikan ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak memberikan dampak signifikan terhadap harga pangan domestik.
Ia menyebut stok beras nasional saat ini mencapai 4,5 juta ton dan diperkirakan mencukupi kebutuhan hingga 11 bulan ke depan.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi juga menegaskan bahwa ekspor pupuk urea tetap dilakukan dengan prioritas pada kebutuhan dalam negeri.
“Yang penting Indonesia aman dulu baru ekspor,” kata Rahmad.
Ia menjelaskan Indonesia masih memiliki kapasitas produksi yang memungkinkan untuk membantu negara lain yang mengalami kekurangan pasokan pupuk.
Kondisi tersebut dipicu oleh terganggunya distribusi global akibat penutupan Selat Hormuz serta meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]