WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan alasan utama dibalik keputusan Presiden Prabowo Subianto membentuk BUMN khusus ekspor yang secara tunggal akan mengelola aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia, khususnya untuk sektor sumber daya alam tertentu, seperti batu bara, kelapa sawit, hingga ferro aloy.
Pembentukan BUMN yang menangani ekspor komoditas strategis RI bernama PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) itu kata dia disebabkan temuan pemerintah terhadap praktik culas eksportir yang melakukan under invoicing, atau menjual komoditas ekspor Indonesia di bawah harga jual pasarannya, dan memanfaatkan skema transfer pricing di anak perusahaan yang berdiri di negara lain.
Baca Juga:
Langkah Prabowo Kontrol Ekspor Komoditas Disorot Media AS-Singapura
Purbaya mengatakan, praktik under invoicing dan transfer pricing ini mudah ditemukan dalam aktivitas eksportir batu bara maupun minyak mentah kelapa sawit alias CPO. Mereka memanfaatkan anak usaha yang telah dibangun di negara-negara transit ekspor, seperti Singapura maupun India.
"Jadi polanya sama, perusahaan Indonesia kirim ke Amerika misalnya, tapi dikirim dulu, dijual ke anak perusahaannya. Di situ ada transfer pricing di mana harganya dari sini ke sana diperbesar, tapi yang di Indonesia rugi," kata Purbaya, dikutip Kamis (21/5/2026) melansir CNBC Indonesia.
"Jadi laporan incomenya juga di Indonesia rugi, atau kecil sekali. Di situ saya juga rugi pajak penghasilan. Jadi saya rugi banyak," tegasnya.
Baca Juga:
PLN: Beli Token dan Cek Riwayat Kini Bisa Lewat PLN Mobile
Praktik ini berhasil ia temukan setelah kepala negara geram kekayaan Indonesia tidak memberikan manfaat kepada bangsa. Presiden Prabowo Subianto bahkan kata dia sudah sering membahas praktik under invoicing dan transfer pricing ini di sejumlah rapat kabinet.
Dari hasil kejengkelan Prabowo itu, Purbaya mengaku langsung bergerak untuk mencari bukti praktik di lapangannya, dengan memanfaatkan Lembaga National Single Window.
"Saya panggil jagoan-jagoan dari Kementerian Keuangan untuk gabung di situ, kita buat namanya tim 10 di situ, itu meng-employ AI segala macam di situ untuk melihat apakah betul di industri misalnya sawit ada under-invoicing," tegas Purbaya.