“Karena mereka melihat bahwa, ya, Indonesia ini growth-nya ini relatif stabil,” jelas Rosan.
Rosan tidak menampik bahwa kondisi ekonomi tetap memiliki siklus naik turun, terutama di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi.
Baca Juga:
Garuda Pimpin Holding Maskapai BUMN, Danantara Ingin Kuasai Pangsa Pasar Penerbangan
“Iya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada, apalagi di tengah tension geopolitik, geoekonomi, itu adalah hal-hal yang memang selalu ada dalam cycle ekonomi kita,” jelas Rosan.
Ia menegaskan keberhasilan penerbitan obligasi global tersebut membantah keraguan sejumlah pihak yang sebelumnya menilai instrumen Danantara tidak akan diminati pasar.
Rosan juga menyebut yield obligasi Danantara lebih rendah dibandingkan perkiraan awal pelaku pasar.
Baca Juga:
Danantara Gandeng Chandra Waste Energy, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Percepat Transisi Energi
Dalam proses book building, yield obligasi tersebut sebelumnya diperkirakan berada pada rentang 6 persen hingga 7 persen.
Namun, realisasi yield yang lebih rendah dinilai menunjukkan kuatnya keyakinan investor terhadap Danantara dan Indonesia.
“Ini adalah hasil yang sangat-sangat baik, dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia, ini tinggi, dan ini terbukti, dan ini real ya, dan ini real,” pungkas Rosan.