WAHANANEWS.CO, Jeneponto - Di pesisir Kelurahan Tonrokassi Timur, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, abrasi dan banjir rob pernah menjadi ancaman yang akrab bagi masyarakat.
Hamparan bekas lahan tambak yang terdegradasi perlahan kehilangan fungsi ekologisnya. Daratan terkikis, kawasan pesisir semakin rentan, dan masyarakat hidup berdampingan dengan risiko kerusakan lingkungan yang terus berulang.
Baca Juga:
Pererat Silaturahmi, PLN UIP Sulawesi dan Kejati Sulsel Perkuat Kolaborasi Kawal Infrastruktur Kelistrikan
Mengembalikan Perlindungan Alami Pesisir
Di tengah tantangan tersebut, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi hadir melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa rehabilitasi mangrove.
Program ini dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan penanaman, tetapi sebagai upaya pemulihan ekosistem pesisir, penguatan ketahanan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga:
PLN UIP Sulawesi dan Media Perkuat Sinergi Mengawal Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan
Di atas lahan seluas 2,7 hektare, PLN UIP Sulawesi melibatkan masyarakat pesisir, nelayan, dan pengelola tambak dalam proses penanaman, pemeliharaan, hingga pengawasan pertumbuhan mangrove. Keterlibatan ini menjadi bagian penting agar program tidak berhenti sebagai bantuan fisik, tetapi tumbuh menjadi gerakan bersama untuk menjaga lingkungan.
Tumbuh Bersama Masyarakat
Perjalanan program tidak selalu mudah. Gelombang laut dan genangan air sempat menyebabkan sebagian bibit tidak bertahan. Namun, melalui monitoring berkala, PLN UIP Sulawesi melakukan penyulaman bibit dan penyesuaian jenis tanaman, salah satunya dengan memperbanyak mangrove jenis Avicennia yang lebih adaptif terhadap kondisi pesisir terbuka.