Rupiah kembali menguat dan IHSG bergerak lebih positif, sehingga sebagian warganet menilai narasi bahwa Indonesia sedang rapuh tidak sepenuhnya terbukti.
Dari situ, perdebatan bergeser ke istilah lain yang lebih provokatif, yakni Sell Singapore.
Baca Juga:
Kebijakan Baru BI Pembelian Dolar, Transaksi Turun Jadi US$9 Juta per Hari
Tagar #SellSingapore kemudian ramai digunakan warganet Indonesia sebagai respons atas berbagai narasi mengenai hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura.
Meski terdengar seperti ajakan menjual aset di Singapura, istilah tersebut berkembang menjadi simbol kritik terhadap struktur ekonomi yang dianggap membuat nilai ekonomi Indonesia banyak terserap ke luar negeri.
Salah satu isu yang banyak dibahas adalah keberadaan perusahaan yang menjalankan bisnis besar di Indonesia, tetapi memiliki induk usaha, kantor regional, atau pusat investasi di Singapura.
Baca Juga:
Harga Obat Melesat Gegara Rupiah Melemah, YLKI Bongkar Masalah Besar Farmasi RI
Kondisi itu membuat sebagian publik mempertanyakan mengapa keuntungan dari pasar Indonesia justru banyak dihimpun melalui pusat keuangan di luar negeri.
Perdebatan semakin ramai setelah muncul kabar mengenai pelepasan sejumlah aset premium di Singapura yang dikaitkan dengan konglomerat asal Indonesia.
Beberapa aset yang disebut dalam berbagai laporan berada di kawasan bisnis utama Singapura dan dinilai memiliki nilai strategis secara ekonomi.