WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tekanan global kembali menghantam rupiah sehingga mata uang Garuda harus menutup perdagangan di zona merah meski sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan pada Mei 2026.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (2/6/2026) ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.839 per dolar AS.
Baca Juga:
Jangan Terjebak Drama, Ini 8 Cara Cerdas Menghadapi Orang yang Suka Playing Victim
Pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal berupa ketidakpastian geopolitik global serta sejumlah data ekonomi dalam negeri yang baru dirilis.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai arah pergerakan rupiah masih dibayangi perkembangan konflik dan negosiasi di Timur Tengah serta respons pasar terhadap data ekonomi nasional.
Dari sisi eksternal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung meskipun sebelumnya kantor berita Tasnim melaporkan Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington.
Baca Juga:
GOTO dan NCKL Tersingkir dari FTSE Russell, Ini Daftar Lengkap Saham yang Dicoret
Trump sempat menyatakan tidak keberatan apabila proses pembicaraan tersebut berakhir.
Namun tidak lama kemudian, Trump kembali mengunggah pernyataan di media sosial yang menegaskan bahwa komunikasi dengan Iran masih terus berjalan.
Trump juga menyampaikan harapan agar kesepakatan perpanjangan gencatan senjata dapat tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat.