Dari sisi domestik, pasar terus memantau tren deflasi yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut sejak Mei hingga September 2024, yang mengindikasikan bahwa masyarakat kelas menengah, terutama pekerja, semakin kesulitan untuk berbelanja.
Dengan demikian, harapan bank sentral Indonesia agar masyarakat meningkatkan belanja guna mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen tampaknya sulit terwujud.
Baca Juga:
Kinerja “Trump” Berada dalam Kelesuan di Tengah Menekan Rupiah, Dolar AS Kukuh di Atas 16.300
Ini disebabkan oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor industri yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan situasi ini. Pertama, tingginya angka PHK.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 53.993 pekerja terkena PHK per 1 Oktober 2024, mayoritas berasal dari sektor manufaktur.
Baca Juga:
Heboh Dollar AS ‘Anjlok’ Jadi Rp8.170 di Google, Ini Klarifikasi Google dan BI
Jawa Tengah, Banten, dan Jakarta menjadi provinsi dengan angka PHK tertinggi.
Diperkirakan hingga akhir tahun, angka PHK akan melonjak di atas 75.000 karena semakin banyak perusahaan yang bangkrut atau pindah ke daerah dengan upah minimum lebih rendah.
Kedua, terbatasnya lapangan pekerjaan di sektor padat karya.