Tidak hanya itu, Dtech juga berhasil memenangkan sejumlah kompetisi desain komponen pesawat tingkat internasional, mengungguli peserta dari berbagai negara, termasuk akademisi dan peneliti dari universitas-universitas ternama dunia.
“Waktu itu, kami hanya ingin membuktikan bahwa kemampuan insinyur Indonesia tidak kalah. Ternyata, kami justru menjadi juara pertama dan berhasil membuat desain komponen yang 84 persen lebih ringan dibanding desain konvensional,” kata Fajar.
Baca Juga:
Produk Herbal Indonesia Tembus Arab Saudi, Raih Kesepakatan Ekspor Perdana Rp2,5 Miliar
Titik balik menuju industri manufaktur
Momentum penting bagi perusahaan terjadi pada 2018. Saat itu, tim Dtech mempelajari data indeks daya saing global yang menunjukkan bahwa kapasitas inovasi Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa negara dengan tingkat inovasi tinggi umumnya memiliki kapasitas manufaktur yang kuat, yang didukung oleh ketersediaan mesin CNC dalam jumlah besar. Negara-negara seperti Jerman, Amerika Serikat, dan Tiongkok menjadi contoh bagaimana penguasaan teknologi manufaktur berkontribusi terhadap daya saing industri dan kemampuan inovasi nasional.
Baca Juga:
Mendag Budi Santoso Ajak UMKM Salatiga Manfaatkan Program Kemendag untuk Tembus Pasar Ekspor
Temuan tersebut mendorong Dtech Engineering untuk mengambil langkah strategis: mengembangkan mesin CNC buatan dalam negeri yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Menghadirkan CNC yang dekat dengan kebutuhan masyarakat
Berbeda dengan mesin CNC impor dari Jerman atau Jepang yang umumnya dibanderol mulai ratusan juta hingga miliaran rupiah, Dtech merancang mesin CNC yang dapat diakses oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekolah vokasi, hingga perguruan tinggi.